EMail: dianafitridipi@gmail.com

Judul : The Girl Who Drank The Moon

Penulis : Kelly Barnhill 

Jenis Buku : Novel Fantasi

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  420 halaman

Harga : Rp. 115.000

ISBN : 978-602-394-731-7

Edisi Terjemahan

Pengalih Bahasa : Marcalais Fransisca

Desain : Aditya Ramadhita

Penata Letak : Dias Aditya Andrianto

 

Sekelumit Tentang Isi

Tiap tahun desa Protektorat mengorbankan seorang bayi untuk sang penyihir di hutan dan sebagai balasannya desa mereka akan aman dari  petaka dan gangguan penyihir tersebut. Penduduk desa tidak pernah tahu bahwa Xan si penyihir justru baik hati dan suka menolong banyak orang. Xan justru bingung mengapa setiap tahun selalu ada seorang bayi malang yang ditinggalkan oleh penduduk desa di hutan. Jika Xan tidak cepat menyelamatkan dan membawa pergi bayi itu, pasti akan ada banyak bayi-bayi yang mati di hutan karena kelaparan atau dimangsa hewan liar. Xan akan mencari orangtua angkat untuk tiap bayi, dan merawat sementara bayi tersebut dengan sinar bintang dalam perjalanannya menuju desa lain di sisi hutan.

Suatu hari Xan tanpa sengaja memberi makan seorang bayi cantik dengan sinar bulan dan bukannya sinar bintang. Bayi tersebut menjadi bayi sihir. Xan kemudian memutuskan untuk merawat sendiri bayi itu dan menganggapnya seperti cucu. Bersama monster rawa baik hati bernama Glerk dan naga mungil Fyrian, mereka merawat Luna dengan penuh cinta. Luna tumbuh menjadi gadis kecil yang memiliki kekuatan sihir yang sangat besar. Karena khawatir sihirnya yang kuat dapat membahayakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya, Xan memantrai Luna sehingga sihirnya terbendung dan akan terbuka dengan sendirinya ketika Luna berumur 13 tahun nanti, saat Luna sudah mengerti arti kebaikan dan lebih bisa berpikir logis dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik. Semua seolah berjalan sesuai rencana, kecuali kenyataan bahwa Xan kian tahun kian lemah keadaannya.

Sementara itu seorang pemuda di desa Protektorat memutuskan untuk membebaskan rakyat Protektorat dari cengkraman penyihir. Ia akan membunuh penyihir tersebut agar penduduk tidak perlu lagi mengorbankan anak yang mereka cintai. Beredar pula bahwa si Pelahap Derita lah penjahat yang sebenarnya yang selama ini membuat penduduk hidup sengsara.

Pada akhirnya hanya Luna yang mampu melindungi orang-orang yang ia cintai dan orang-orang yang tak bersalah. Namun, mampukah Luna melakukan itu semua dan bersedia menerima konsekuensi kehilangan orang yang sangat ia cintai dan mengorbankan keselamatan dirinya sendiri? Apakah rencana pembunuhan terhadap Xan berhasil dilakukan? Siapakah yang sebenarnya menyebabkan penduduk Protektorat menderita selama bertahun-tahun lamanya?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Pada kenyataannya memang disain coverlah yang membuat saya tertarik pada buku ini. Pandangan pertama memang sungguh menggoda. Baik pilihan warna maupun ilustrasi gambar di cover buku sangat eye catching menurut saya. Saya tidak tahu pendapat teman-teman bagaimana? Mungkin ada yang sependapat dengan saya, mungkin juga tidak.

Hanya saja ketika saya sudah selesai membaca buku ini, saya merasa ada yang kurang. Mungkin karena saya biasa melihat buku bergenre fantasi ala ala dongeng dan dapat dibaca semua usia seperti ini biasanya kaya akan ilustrasi gambar di halaman ceritanya, maka saya agak sedikit bingung ketika mendapati buku ini polos dari ilustrasi. Berhubung saya memang suka dengan gambar visual, saya berharap di dalam buku ada halaman yang berisi ilustrasi penyihir, monster rawa, dan beberapa latar yang diceritakan. Tapi untungnya meski nihil ilustrasi, saya tidak merasa kesulitan untuk berimajinasi.

Tampaknya meski sama-sama buku bergenre fantasi-dongeng, The Girl Who Drank The Moon cukup bertolak belakang dengan buku The Language of Thorns - Leigh Bardugo yang kaya akan ilustrasi gambar warna-warni di tiap halamannya.

Baca juga Review Buku "The Language of Thorns - Leigh Bardugo"

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh-tokoh inti dalam buku ini adalah Xan, Luna, wanita di menara, Glerk, Fyrian, dan Attain. Teman-teman kemungkinan akan sangat menyukai tokoh Xan mengingat dia bukan cuma sakti sebagai penyihir tapi juga baik hati. Glerk sang monster rawa adalah pujangga yang ahli dan tergila-gila pada puisi. Dia juga monster yang baik hati. Fyrian si naga mungil punya sifat kekanak-kanakan, tapi ia setia dan sangat cinta pada Xan, Glerk, dan Luna. Attain pemuda yang baik hati, ia sebenarnya takut tapi memberanikan diri demi orang-orang yang ia cintai, sikapnya sederhana, dan ia punya bakat yang besar. Wanita di menara adalah misteri awalnya. Ia salah seorang manusia yang istimewa, yang ditakdirkan untuk memiliki kekuatan sihir meski ia bukan penyihir. Cintanya yang besar dan penderitaannya yang dalam membuatnya seperti gila, tapi akhirnya ia bisa menghadirkan kembali harapan di dalam hatinya yang gelap.

Deskripsi fisik untuk tokoh-tokoh yang ada dalam cerita menurut saya mencukupi, sehingga saya tidak kesulitan saat mengimajinasikannya dalam pikiran. Belum lagi gaya bahasa yang luwes dan memiliki humor. Seringkali mengundang senyum di bibir saya di saat-saat yang tak terduga. Contohnya saat membaca bagian yang ini.

Di tepi paya itu, tegak di pinggir alang-alang berbunga yang tumbuh di atas tanah becek, seorang wanta yang sangat tua berdiri bersandar pada sebatang tongkat berbonggol. Wanita itu pendek dan gempal dan sedikit buncit perutnya. Rambut keritingnya yang keriting, yang kelabu ditarik ke belakang membentuk sanggul tebal berkepang dengan dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh dari celah-celah tipis kepangan beruntir itu. Wajahnya, meskipun dengan rona jengkel, memancarkan sinar dari mata tuanya dan sesungging tipis senyum dari mulutnya yang rata dan lebar. Dari sudut tertentu, ia agak mirp dengan katak besar yang ceria.

Halaman 22-23      

# untuk deskripsi fisik tokoh yang dibawakan cukup serius, penutup kalimat “mirip dengan katak besar yang ceria” bagi saya terasa kontras dengan keseriusan kalimat-kalimat sebelumnya. Mau tak mau saya membayangkan seperti apa katak besar yang ceria itu, dan tentu saja itu semua jadi terasa lucu.

 

Alur dan Latar

Alur cerita di buku ini maju. Tidak ada alur yang terpotong atau terasa tidak proporsional. Justru cerita terasa begitu mengalir.

Latar-latar yang digunakan dalam cerita meliputi keadaan desa, hutan, rumah dan rawa tempat Xan tinggal bersama Glerk dan Fyrian saat membesarkan Luna, menara, dan beberapa tempat sekitar itu. Latar-latar yang penting dideskripsikan dengan lebih detail sedangkan latar penunjang diberi deskripsi yang secukupnya saja. Latar favorit saya tentu saja rumah pohon milik Xan.  

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Bagian terbaik dari buku ini salah satunya adalah ide fantasi yang benar-benar baru bagi saya. Selain itu fantasi ini didukung pula oleh bahasa yang baik sehingga saya sebagai pembaca bisa menikmatinya dan merasa sangat terhibur.

Seiring waktu, Xan membuat persiapan tertentu – selimut yang ditenun dari bulu domba paling lembut untuk membungkus si bayi dan menjaganya tetap hangat, setumpuk kain untuk mengganti popok yang basah, satu atau dua botol susu kambing untuk mengisi perut yang kosong. Jika susu kambingnya habis (seperti yang kadang kala terjadi – karena perjalanannya panjang, dan susunya berat), Xan melakukan hal yang akan dilakukan semua penyihir berakal sehat; saat hari sudah cukup gelap sehingga bintang-bintang kelihatan, ia mengangkat satu tangan dan mengumpulkan cahaya bintang dengan jemarinya, seperti benang sutra dari jaring laba-laba, dan memberi makan si anak dengan cahaya bintang itu. Seperti semua penyihir tahu, cahaya bintang aadalah makanan yang sangat baik untuk bayi yang sedang tumbuh. Mengumpulkan cahaya bintang membutuhkan keterampilan dan bakat tertentu (salah satunya, kemampuan sihir), tetapi anak-anak sangat doyan melahapnya. Mereka menjadi gemuk, kenyang, dan bercahaya.

Halaman 28

             

Untuk teman-teman yang menyukai puisi, kemungkinan teman-teman pun akan menyukai buku ini karena Glerk sang Monster Rawa adalah pujangga tulen yang tak pernah lupa untuk membacakan syair atau bahkan menyanyikan sebuah bait puisi. Puisi-puisinya memang tak begitu bisa saya nikmati maknanya. Tapi mungkin teman-teman bisa.

“Lahirlah cahaya

Lahirlah angkasa

Lahirlah masa tak terhingga,

Dan ke butiran pasirlah

Semua hal akan kembali.”

Halaman 45

 

Sisi emosi yang dibangun oleh penulis berhasil dengan baik. Selama membaca cerita ini saya ikut merasa senang, sedih, dan terharu. Actionnya harus diakui memang tidak terlalu memacu adrenalin, tapi rasanya untuk ukuran cerita fantasi dongeng memang tidak pernah ada adegan perkelahian yang super seru dan penuh kekerasan. Beberapa bagian cerita juga beradegankan kelakukan anak kecil yang kalau penulisnya tak pandai pasti tak dapat menuangkannya dalam tulisan. Tapi semua yang tertulis di buku ini berhasil membawa emosi dengan baik.

Bayi itu memandang Glerk yang sedang berjalan, mengamati bola matanya yang menonjol, telinga kerucutnya, dan bibir  tebal yang terpasang di rahang yang lebar. Ia mengamati setiap kutil, setiap lekukan, dan setiap benjolan berlendir di wajah si monster yang besar dan datar dengan tatapan takjub. Si bayi menjulurkan satu jari dan dengan penasaran menusukkannya ke salah satu lubang hidup Glerk. Glerk bersin, dan anak itu tertawa.

“Glerk,” kata si bayi, walaupun mungkin sebenarnya ia sedang cegukan dan sendawa. Glerk tidak peduli. Bocah itu mengucapkan namanya. Dia mengatakannya. Hatinya nyaris meledak.

Xan, berusaha sebisa mungkin menahan diri untuk tidak mengatakan, kan aku sudah bilang. Ia berhasil.

Halaman 45

# yang dekat dengan anak kecil pasti tahu kelakuan bayi dan balita yang suka memasukkan jari-jari mereka ke dalam mulut atau hidung orang yang ada di dekatnya dan dekat di hati mereka. Momennya mengundang senyum dan memang menghadirkan kehangatan di hati. Apalagi kalau si kecil bisa mengucapkan nama kita.

 

Kemudian, ketika sesuatu yang tumbuh itu telah dihilangkan dan otak sang kepala sekolah sudah sembuh dan ia tidur dengan nyenyak, Xan merasa akhirnya ia dapat santai. Matanya tertuju kepada mangkuk di atas meja. Mangkuk berisi adonan roti yang sedang mengembang.

Namun, sama sekali tidak ada adonan roti di mangkuk itu. Yang ada justru sebuah topi – bertepi lebar dan penuh hiasan rumit. Topi tercantik yang pernah dilihat Xan.

“Astaga,” bisik Xan, memungut topi itu dan menangkap tali sihir yang terikat di dalamnya. Biru. Dengan kilau perak di tepi-tepinya. Sihir Luna. “Astaga, astaga.”

Halaman 62

# Itu adegan pertama kali Luna bisa sihir di usianya yang masih sangat kecil. Bukan cuma Xan yang kaget, saya pun jadi ikut terkaget-kaget.

 

Para mantan suster menunggu mereka di kamar yang kosong. “Kami tidak tahu apa yang terjadi,” kata mereka dengan mata berkaca-kaca. Tempat tidur kosong, dan dingin. Tak ada tanda-tanda Xan di mana pun.

Luna merasa hatinya mati rasa. Ia memandang ibunya, yang bermata sama. Dengan tanda yang sama di keningnya. Tak ada cinta tanpa kehilangan, pikirnya. Ibuku tahu ini. Sekarang aku juga tahu. Ibunya meremas lembut tangan Luna dan mengecup rambut hitam gadis itu. Luna duduk di ranjang, tetapi ia tidak menangis.

Halaman 390

# Ini salah satu bagian yang sedih dalam cerita

 

Jika teman-teman membaca buku ini, teman-teman akan menemukan ada beberapa bab yang berbeda gaya penuturannya. Di Bab tersebut seolah-olah ada seseorang yang sedang mendongeng. Awalnya akan terasa membingungkan untuk pembaca karena perbedaan sudut pandang cerita.

 

Yang saya juga sukai dari buku ini adalah bukan cuma jalan ceritanya saja yang menarik, tapi juga karena pesan moralnya yang banyak. Beberapa di antaranya saya kutipkan di bawah ini.

Hal-hal terindah di dunia justru tak tampak oleh mata.

Halaman 183

 

... dengan meminta maaf, kau mungkin dapat mulai menyembuhkan diri. Itu bukan untuk kami. Itu demi dirimu sendiri.

Halaman 384

 

Siapa Kelly Barnhill

Kelly Barnhill adalah penulis Amerika yang karya-karyanya bergenre children's literature, fantasy, dan science fiction. Buku-buku yang ia tulis telah mendapatkan banyak penghargaan, beberapa di antaranya adalah Parents Choice Gold Award, Texas Library Association Bluebonnet Award, Charlote Huck Honor, Andre Norton Award,PEN/USA literary Prize, World Fantasy Award. Seperti halnya The Witch’s Boy, novel debutnya The Mostly True Story of Jack mendapatkan review bintang empat. Buku keduanya, Iron Hearted Violet lah yang meraih penghargaan Parent's Choice Gold Award dan menjadi nominasi ajang penghargaan Andre Norton Award.

Buku The Girl Who Drank the Moon juga mendapatkan banyak penghargaan, yaitu :

  • Pemenang Newbery Medal 2017
  • Best Midle Grade Book 2016 versi Entertainment Weekly
  • Buku Terbaik 2016 versi New York Public Library
  • Buku Terbaik 2016 versi Chicago Public Library
  • Termasuk Daftar 20 Buku Terbaik 2016 versi Amazon
  • Buku Terbaik 2016 versi Publishers Weekly
  • Buku Terbaik 2016 versi School Library Journal
  • Nominasi Buku Terbaik 2016 versi KirkusReviews

Karya lain Kelly Barnhill adalah :

  • The Mostly True Story of Jack
  • Iron Hearted Violet
  • The Witch’s Boy

The Girl Who Drank The Moon mendapatkan rating 4.6 di Amazon, dan 4.18 di Goodreads. Tahun 2017 Buku ini juga menjadi buku juara di ajang Goodreads Choice. 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca semua usia yang menyukai buku bergenre fantasi atau dongeng yang tokoh-tokohnya melibatkan penyihir, naga, monster, berikut mantra-mantranya. Mereka yang menyukai buku dengan pesan moral yang baik juga saya rekomendasikan untuk membaca buku ini. Ide fantasinya bisa dibilang baru. Ditunjang oleh deskripsi latar, tokoh, serta bahasa yang luwes, cerita di dalam buku ini menjadi sangat hidup dan sangat menghibur. Terjemahannya pun baik.

 

My Rating : 4/5

 

Review Buku Perfect - Cecilia Ahern

13-09-2018 Hits:70 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Perfect Penulis : Cecilia Ahern Jenis Buku : Fiksi. Young Adult. Penerbit : HarperCollins Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  432 halaman Dimensi Buku :  19.80 x 12.90 x 0.00 cm Harga : Rp...

Read more

Review Buku Rainbirds - Clarissa Goenawa…

12-09-2018 Hits:58 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rainbirds Penulis : Clarissa Goenawan Jenis Buku : Novel - Fiksi Sastra Penerbit : Gramedia Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  400 halaman Dimensi Buku :  20 cm Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786020379197 Edisi...

Read more

Review Buku The President is Missing - B…

12-09-2018 Hits:58 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The President is Missing Penulis : Bill Clinton & James Patterson Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit : Juni 2018 Jumlah Halaman :  513 halaman Harga : Rp.235.000 ISBN :...

Read more

Review Buku With The End in Mind - Kathr…

12-09-2018 Hits:48 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : With The End in Mind – Dying, Death, and Wisdom in an Age of Denial Penulis : Kathryin Mannix Jenis Buku : Non Fiksi Penerbit : Harper Collins Publisher Tahun Terbit : 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Girl With All The Gifts …

12-09-2018 Hits:53 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Girl With All The Gifts Penulis : M.R. Carey Desain Sampul : Agung Wulandana Jenis Buku : Novel – Sci Fiction - Horor Penerbit : Mizan Fantasi Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku Semua Anak Bintang - Munif C…

11-09-2018 Hits:49 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Semua Anak Bintang Menggali Kecerdasan dan Bakat Terpendam dengan Multiple Intelligences Research (MIR) Penulis : Munif Chatif Jenis Buku : Non Fiksi – Psikologi & Pendidikan Anak Penerbit : Kaifa Tahun Terbit : Juli 2017 Jumlah...

Read more

Magnus Chase and The God of Asgard – The…

10-07-2018 Hits:43 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard – The Hammer of Thor Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel - Fantasi Penerbit : Disney-Hyperion Tahun Terbit : Oktober 2016 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga :...

Read more

Review Buku Aroma Karsa - Dee Lestari

08-07-2018 Hits:207 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Aroma Karsa Penulis : Dee Lestari Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Bentang Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  710 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-291-463-1 Soft Cover                                                                                       ...

Read more

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:223 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more