EMail: dianafitridipi@gmail.com

 

Prolog

IBLIS KEKASIH

Jangan sembarang menerima pemberian demikian nasihat orang-orang tua dulu, tapi kau telanjur meminta paket itu: hadiah sekaligus kutukan. Iblis Kekasih telah memberimu sepasang sepatu merah.

...

Iblis Kekasih mendatangimu saat kau ingin lari. Seperti malam-malam sebelumnya, kau merasa kaki dan tanganmu terikat di tempat tidur. Mulutmu terbungkam meski kau berharap kupingmu yang tersumpal, dan, sialnya, ketimbang menolak kedap ia malah mendesakkan seluruh getar ke gendang telingamu, menjejalkannya ke jejaring pembuluh darahmu yang berangsur kebal diserbu histeris suara televisi, knalpot motor, klakson mobil, tukang bakso, deru kereta api. Azan sumbang yang berkumandang dari pertarungan toa-toa masjid menjadi penanda masamu, berikut bonus sekali waktu berupa kasidah ibu-ibu gila tampil atau pentas dangdut tujuh belas Agustus. Bahkan cuaca terik seolah berkuku: panjang menghujam papan tulis, menggaruk-garuk.

Seluruh keramaian ini memperdaya siapa pun yang menaruh harapan pada dinamika tempo. Sebagian kota dunia memang bergerak lebih cepat dari lainnya, terus-menerus mengingatkanmu agar lekas naik sebab ia tak berhenti lama. Kereta, kau mencari kereta. Tapi di sini, kau tahu, kau tak beranjak kemana-mana.

Kau mulai berakar. Kau mulai berlumut.

Kau percaya tempat-tempat tertentu bisa membujuk seseorang untuk bunuh diri. Namun, sebagaimana yang sering kau baca, tempat-tempat semacam itu biasanya cantik dan menyihir. Sungai Seine, Jembatan Golden Gate. Jakarta, celakanya, begitu panas, gersang, buruk rupa, wajahnya terlalu carut-marut untuk punya kemampuan menghasut. Dan di sanalah saat ini kau berumah, di kota penuh hasrat bunuh diri yang lumpuh.

Kau tetap tak bisa bergerak. Barangkali ini yang disebut orang ditindih setan. Di malam-malam sebelumnya kau memejamkan mata dan berdoa kepada siapa saja yang mendengarkan. Kau berhitung, berharap hidupmu beruba di angka tiga. Tapi tak ada yang berubah. Kau marah, lalu menantang semesta. Kalau memang ada setan yang ingin melumatmu, biarlah. Mungkin ini bisa menyelamatkanmu dari rasa bosan.

Mungkin setan butuh undangan yang lebih gamblang. Maka kau tidur telanjang dan mulai berhitung. Sebelum hitungan ketiga, lampu kamarmu mengerjap-ngerjap sesaat, lalu padam. Jendela kamarmu terbuka.

Dan di ujung tempat tidurmu berdirilah ia.

Sekujur tubuhnya dipenuhi bekas luka. Ia terlihat kurus kering, bungkuk dan renta, namun luka-luka itu terlihat begitu segar, mengingatkanmu pada anak kecil yang terjatuh berulang kali dari sepeda dan merasa gatal jika tidak mengorek-ngorek boroknya. Bulu-bulu menutupi tubuh makhluk itu secara serampangan: di dada, pipi, telinga. Matanya bersinar merah, terlihat lapar ketimbang marah. Kau menahan nafas. Merasa kedinginan, kau berupaya menarik selimut.

Apakah kau datang untuk memperkosaku?

Ia menyeringai menampilkan sederetan gigi kecoklatan yang sebagian runcing dan sebagian lagi hancur. Air liurnya membasahi ibu jari kakimu.

Atau barangkali kau ingin memakanku?

Ia tak beranjak. Mata merahmu hanya menatap tubuhnya, seperti terpaku tanpa nafsu. Ia bukan pemerkosa, juga bukan pemakan daging manusia.

Kemarilah.

Kau memerintah, maka ia mendekat dan berbaring di sampingmu. Kau tak tahu mengapa kau melakukannya. Barangkali kau kerasukan setan; barangkali kau cuma tak mau tinggal di sini, menghidupi semua ini. Kau mulai membelai jari-jarinya yang panjang, menuntunnya ke arah lehermu. Bibirnya dingin, kasar. Saat lidahmu mengait lidahnya, tubuhnya yang kurus berkelojotan, antara sakit dan kegirangan, mengejutkanmu.

Usai bercinta dengannya kau tahu ia memujamu begitu rupa. Kau memandanginya dengan takjub sambil menyeka keringat yang menetes di dahimu. Malam yang gerah. Ia menciumi kakimu, lalu mendekati wajahmu lagi, berbisik di telingamu. Bahasa asing, tapi kau memahaminya.

Jadikan aku budakmu.

Kamarku sempit, katamu. Tak bisa memelihara iblis.

Aku akan datang setiap malam, ia berjanji. Akan kuberikan apa pun yang kau minta.

Apa pun?

 

...

 

Sejak malam itu kau terus menantikan Iblis masuk ke dalam kamar kosmu. Ia pemain yang lihai sebab ia seorang pemuja, dan dalam laparmu kau menggerogotinya seperti tikus mengerati roti.

Kau mulai menyebutnya Iblis Kekasih.

Ia bersikap seperti kekasih zaman dahulu, menghadiahimu mawar dan cokelat. Tak berguna tapi manis, pikirmu, sebab kau sedang kecanduan bercinta. Ia sudah sangat tua dan, dengan demikian, punya banyak cerita. Tentu saja sebagian besar cerita sudah pernah kau dengar, namun ia masih menepuk dada saat kau bertanya perannya dalam pembunuhan Habil hingga perang dunia. Tentang bagaimana istri pembesar Mesir menggoda Yusuf, ia menolak dianggap terlibat. Maaf, tapi sejak awal perempuan memang setan, ucapnya bijak.

Kau menyetubuhinya sampai gila, tapi kau mulai bosan dengan hadiah-hadiahnya. Tak sampai sebulan setelah resmi berpacaran, kau membuang tumpukan mawar kering yang tersimpan di laci pakaianmu. Kau mengeluh karena cokelat membuatmu sedikit gemuk, dan meskipun Iblis menyukai tubuh montok dan seksi, kau tak peduli. Kau ingin ia mengungkapkan pemujaannya secara lebih nyata.

“Benarkah kau akan mengabulkan semua keinginanku?”

Iblis Kekasih mengangguk, lagi-lagi seraya menciumi kakimu.

“Baiklah,” kau memutuskan. “satu-satunya yang kuinginkan adalah pergi dari sini dan bertualang. Beri aku uang, visa, dan tiket. Sekali jalan. Aku tak mau pulang.”

Ia menggeleng-geleng dan tersenyum, sedikit mengejek.

“Kenapa?”

“Permintaanmu terlalu spesifik. Mintalah sesuatu yang abstrak, seperti kesuksesan, atau kebahagiaan.”

“Maaf, tidak bisa,” tukasmu. “Kita mungkin punya interpretasi berbeda tentang itu.”

Kau bersandar di ranjang dan menekuk kakimu. Kau mengambil sebuah buku tipis dari laci di samping ranjang dan mulai mengipas-ngipasi wajahmu. Bercinta di negeri tropis adalah tawar-menawar dengan panas dan lengket. Ini pertama kalinya kau menggerutu di hadapannya.

“Aku bosan,” keluhmu.

Iblis tersenyum, seolah paham.

“Aku tahu itu sejak awal. Perempuan selalu begitu. Dari Madame Bovary hingga Palupi.”

“Siapa Palupi?”

“Tokoh perempuan luar biasa dalam film Indonesia tahun enam puluhan.”

“Kenapa dia bosan?”

“Dia kawin dengan seorang pengarang miskin yang menjunjung tinggi kejujuran.”

“Oh, ya, pasti bosan.”

Kau mengamati kuku-kuku kakimu yang rapi. Semua sudah dilakukan. Potong kuku, bercinta, berkipas-kipas.

“Kau sedikit berbeda. Palupi tak punya iblis.”

“Ya, tapi aku tetap bosan.”

“Kau belum pernah ke luar negeri?”

Tentu saja berkat menjamurnya maskapai penerbangan bertarif rendah, kini siapa pun bisa pergi ke Singapura, Kuala Lumpur, atau Manila bila mau menabung sedikit. Tapi kota-kota ini terlalu dekat, tak jauh beda dengan pergi ke Jogja.

“Aku ingin pergi lebih jauh, tinggal lebih lama. Aku tak mau hanya jadi turis. Aku ingin tinggal di Paris. Atau New York. Umurku hampir 28 dan aku belum pernah ke New York. Ini tragedi.”

Iblis Kekasih memicingkan mata. Ia menghardikmu dengan suara pelan, serak.

“Kau anak manja yang menyedihkan!”

Ia berhenti sebentar, seolah baru saja mendapat pencerahan dari pernyataannya.

“Maaf. Tapi kau memang mnyedihkan. Dua puluh tujuh adalah usia keramat ---“

“Oke, stop. Kamu mau bilang Jim Morrison dan lainnya mati di umur 27? Basi.”

Ia menatapmu kasihan.

“Jika kau melewati umur 27 dan belum melakukan apa pun, terima nasib saja.”

Kau melotot. Kini kau yang menghardikya, menyuruhnya pergi. Tapi tampaknya Iblis tak ingin bertengkar denganmu. Tak lama kemudian, ia menawar lagi, “Bagaimana kalau tiket liburan pulang pergi?”

“Sudah kubilang aku tak mau pulang.”

“Permintaanmu sulit.”

“Sulit apanya? Kau “kan iblis.”

“Kita butuh kontrak.”

“Oke, berikan padaku.”

Iblis Kekasih mendengus. Ia mulai kesal padamu, lalu berceramah. Tidakkah kau sadar kau tengah menawar setan? Tidakkah kau belajar dari Faust dan Mephistopheles?

Garis-garis wajahnya yang runcing semakin tajam. Kini kau tahu, ia mempersulitmu karena ia ingin terus memilikimu, tak ingin kau pergi. Rumah adalah tempat terbaik untuk menyalib seseorang.

“Jangan sok bermoral. Kabulkan keinginanku.”

Wajahnya lantas berubah, sedih. Iblis Kekasih termenung.

“Aku tak cukup memuaskanmu?”

“Sayangku, kalau soal seks, kau kuberi nilai sembilan.”

Saat mengatakan ini kau merasa heran mengapa Iblis bisa begitu rendah diri. Tapi bukankah ia selalu begitu sejak awal penciptaan? Ia mati-matian menutupinya dengan kesombongan. Rendah diri, penyebab iri dengki, adalah akar kejahatan di dunia.

“Bagaimana aku bisa mencapaimu dalam perjalanan?” tanya Iblis dengan wajah melankolis.

Kau menatapnya heran.

“Astaga, jangan cengeng. Iblis tak butuh visa.”

 

...

 

Kau terbangun keesokan harinya pukul setengah sepuluh pagi. Lewat pengeras suara masjid yang cempreng kau dengar rekaman pembacaan Al Quran. Ini hari Jumat, maka bisa dipastikan rekaman itu akan diputar terus-terusan sampai sholat Jumat siang nanti, entah mana awal mana akhir. Deru motor yang melintas berkali-kali membuat telingamu makin penuh. Kau memijat dahimu pelan. Kulitmu berminyak. Saat itulah kau temukan sepasang sepatu merah berkilauan di samping tempat tidurmu.

Sungguh absurd melihat benda itu di sana; ia tampil anggun di depanmu bersama sinar matahari yang kelewat terang dan suara-suara bsing di sekitar kampung. Kau berjongkok untuk mengamatinya lebih seksama. Di sisinya ada sepucuk surat.

Kekasihku,

Sesuai keinginanmu, kuberikan kau sepasang sepatu bertuah yang akan membawamu bertualang. Pemiliknya seorang perempuan sihir, tapi ia sudah lama mati.

 

Sepatu bekas? Kau mengeluh. Tak apalah. Si tukang sihir punya selera mode yang bagus. Lagi pula, cerita petualangan sering kali dimulai dengan warisan dari seseorang yang telah wafat.

 

Kuperingatkan dirimu, sepatu ini adalah sepatu terkutuk.

Kau terkutuk untuk bertualang, atau lebih tepatnya, gentayangan. Bernaung, tapi tak berumah. Di tempat kau berasal, hantu gentayangan cuma bisa beristirahat dengan tenang setelah dukun merapal mantra atau kiai berkomat-kamit membaca Al Fatihah. Biarlah kutegaskan bahwa di sini tak ada dukun atau kiai yang terlibat, sebab ini permainanku, dan aku juga terkutuk.

Tapi mungkin ini sesuai dengan keinginanmu. Tiket sekali jalan.

Dalam perjalananmu, kau akan mendengar banyak cerita, dan kau akan memungut hadiah. Satu hadiah untuk satu cerita, begitu kira-kira. Kau boleh memilih hadiah, juga jalan cerita, sesuai keinginanmu.

Kadang kau bertanya bagaimana kau bisa sampai di suatu tempat. Ini mungkin pengaruh sihir, tapi dalam perjalanan panjang, seseorang sering mengajukan pertanyaan macam itu.

Kontrak kita terlampir bersama surat ini. Kuanjurkan kau membacanya.

 

 

Di dalam amplop itu terselip secarik kertas yang lain. Deretan tulisan kecil, nyaris tak terbaca, tertera di sana. Tentu saja kau tidak membacanya sebagaimana tak ada orang yang membaca bagian syarat dan persetujuan saat membuat akun email atau mengakses sebuah situs di internet. Kau bahkan tak yakin apakah kontrak itu ditulis dalam bahasa Indonesia, Arab, atau Ibrani.

 

Semoga kau berbahagia dengan pilihanmu. Sebab jika kau ingin pulang, kau akan kehilangan segalanya. Rumahmu tak akan seperti duulu. Di sini bukan lagi tempatmu. Sayangnya, di sana juga bukan. Kontrak ini batal. Sesuai takdirku, aku harus melanglang neraka sampai kutemukan pewaris sepatu merah yang baru.

Jika kau menyetujui kontrak ini, kenakan sepatu merahmu. Artinya, kita telah sepakat.

Sungguh, aku sangat mencintaimu. Tapi aku Iblis, maka hadiah untukmu datang bersama kutukan. Aku tak bisa mencintaimu dengan cara lain.

 

Apakau kau akan mengenakannya?

Sayang sekali, ini bukan waktunya memilih. Kau telah memutuskan jalanmu sebelum kontrak ini ditulis.

Kau memasukkan kakimu ke dalam sepatu. Yang kiri, lalu yang kanan. Agak sempit. Tapi kau melihat bayanganmu di cermin dan mengagumi kecantikan kakimu. Tiba-tiba kau merasa kepalamu demikian sakit. Tubuhmu oleng, dadamu berdebar. Kau merasa akan jatuh, dan sekelilingmu menjadi gelap.

 

PETA PETUALANGAN

 

 

Review Buku Perfect - Cecilia Ahern

13-09-2018 Hits:70 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Perfect Penulis : Cecilia Ahern Jenis Buku : Fiksi. Young Adult. Penerbit : HarperCollins Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  432 halaman Dimensi Buku :  19.80 x 12.90 x 0.00 cm Harga : Rp...

Read more

Review Buku Rainbirds - Clarissa Goenawa…

12-09-2018 Hits:58 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : Rainbirds Penulis : Clarissa Goenawan Jenis Buku : Novel - Fiksi Sastra Penerbit : Gramedia Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  400 halaman Dimensi Buku :  20 cm Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786020379197 Edisi...

Read more

Review Buku The President is Missing - B…

12-09-2018 Hits:58 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The President is Missing Penulis : Bill Clinton & James Patterson Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Penguin Random House Tahun Terbit : Juni 2018 Jumlah Halaman :  513 halaman Harga : Rp.235.000 ISBN :...

Read more

Review Buku With The End in Mind - Kathr…

12-09-2018 Hits:48 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : With The End in Mind – Dying, Death, and Wisdom in an Age of Denial Penulis : Kathryin Mannix Jenis Buku : Non Fiksi Penerbit : Harper Collins Publisher Tahun Terbit : 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Girl With All The Gifts …

12-09-2018 Hits:53 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Girl With All The Gifts Penulis : M.R. Carey Desain Sampul : Agung Wulandana Jenis Buku : Novel – Sci Fiction - Horor Penerbit : Mizan Fantasi Tahun Terbit : 2017 Jumlah Halaman...

Read more

Review Buku Semua Anak Bintang - Munif C…

11-09-2018 Hits:49 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Semua Anak Bintang Menggali Kecerdasan dan Bakat Terpendam dengan Multiple Intelligences Research (MIR) Penulis : Munif Chatif Jenis Buku : Non Fiksi – Psikologi & Pendidikan Anak Penerbit : Kaifa Tahun Terbit : Juli 2017 Jumlah...

Read more

Magnus Chase and The God of Asgard – The…

10-07-2018 Hits:43 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard – The Hammer of Thor Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel - Fantasi Penerbit : Disney-Hyperion Tahun Terbit : Oktober 2016 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga :...

Read more

Review Buku Aroma Karsa - Dee Lestari

08-07-2018 Hits:207 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Aroma Karsa Penulis : Dee Lestari Jenis Buku : Fiksi Penerbit : Bentang Tahun Terbit : 2018 Jumlah Halaman :  710 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-291-463-1 Soft Cover                                                                                       ...

Read more

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:222 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more