Translate - Language

id Indonesian zh-CN Chinese (Simplified) nl Dutch en English tl Filipino fr French de German it Italian ja Japanese ko Korean ms Malay th Thai

Review Buku Not If I See You First – Eric Lindstrom + Give Away

Published: Sunday, 25 March 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

 

enter Judul : Not If I See You First

Penulis : Eric Lindstrom

Penerjemah : Orinthia Lee

Penyunting : Brigida Ruri

Penyelaras Aksara :  Titish A.K.

Ilustrasi dan Sampul : Jesslyn Effendy

Penata Sampul : @teguhra

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Penerbit Spring

Tahun Terbit : 2018

Jumlah Halaman :   376 halaman

Dimensi Buku : 20 cm

ISBN : 978-602-6682-15-4

Edisi Terjemahan

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Parker Grant menjalani hidup yang lumayan rumit. Mulai dari tinggal bersama bibinya yang tidak semua anaknya menyukai dia, hingga melayani sesi konsultasi teman-teman di sekolahnya. Parker memang tidak bisa melihat akibat kecelakaan dulu itu, tapi buta tidak berarti bodoh dan lemah hingga semua hal harus dilayani.

Dikelilingi sahabat-sahabatnya yang setia membuat Parker tabah menjalani hidupnya, terutama setelah ayahnya meninggal dunia. Tapi benarkah ia setabah itu?

Apalagi sejak Scott satu sekolah lagi dengannya, hidup Parker perlahan kembali bergejolak. Dulu mereka sahabat, dulu itu mereka bahkan saling nencintai. Tapi Scott mengkhianati kepercayaan Parker. Melupakan Scott tadinya terasa seperti solusi terbaik yang bisa ia temukan, tapi mengapa hatinya terasa sakit setiap kali teringat cowok itu. Akankah ada kesempatan kedua untuk mereka kembali bersama?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Buat yang suka disain cover sederhana dan ga banyak warna-warnanya, sepertinya pasti bakal suka cover yang ini. Tapi buat yang lebih suka disain penuh warna, cover ini mungkin akan terlihat sedikit "sepi" 😁. Nyaris setipe dengan cover-cover buku non fiksi. Untungnya ilustrasi gambar di cover menurut saya bagus sekali. Mengingatkan sekali pada tokoh utama dalam cerita kan ya 😊.

Dan yang paling disuka dari buku-buku terbitan Spring ya pasti pembatas bukunya yang unik-unik. Termasuk pula pembatas buku yang ini. Bentuknya memang mungil, tapi siapa juga sih yang butuh pembatas buku besar, yang terpentingkan bisa buat penanda. Pilihan bentuknya yang unik mau tak mau membuat buku ini jadi punya nilai lebih, terutama bagi pembaca yang juga "pengoleksi" pembatas buku.

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh utama dalam cerita adalah Parker Grant, gadis remaja yang mengalami kebutaan total akibat kecelakaan. Ia yatim piatu dan tinggal bersama keluarga bibinya. Karakter Parker bisa dibilang keras, lidahnya cenderung tajam hingga membuat ia kadang-kadang tampak menyebalkan. Parker pintar dan berprestasi. Di luar itu ia seperti remaja pada umumnya yang masih emosional dan kadang egois.

Sahabat-sahabat Parker yang terdekat adalah Sarah dan Faith. Sarah sahabat yang setia kawan, peduli, baik hati, meski tak sepintar Parker dalam akademik. Faith gadis populer. Kadang tampil seperti musuh Parker, padahal mereka sebenarnya saling menjaga. Lalu ada Molly dan Kent, Sheila dan Petey, dan Bibi Celia.

Jason cowok tampan yang membantu Parker di toko sepatu berkarakter cukup berjiwa besar. Sedangkan Scott, yah, semua orang menyukai Scott.

Dari semua tokoh yang ada, rasanya tak ada yang ganjil saat masuk ke dalam alur cerita. Masing-masing punya peran dan karakter yang tepat.

 

Alur dan Latar

Bisa dibilang cerita di dalam buku ini beralur maju. Memang ada sedikit flashback, tapi hanya singkat saja. Bagian yang saya sukai dari buku ini salah satunya adalah alurnya yang proporsional dan memiliki kejutan di sepanjang jalan cerita hingga tidak terasa bosan saat membacanya. Saya ingat sekali bahwa saya menamatkan buku ini dalam satu hari, waktu itu rasanya ingin melanjutkan membaca buku ini terus hingga selesai. Nah, mudah-mudahan nanti teman-teman merasakan ketertarikan yang sama ya saat membaca buku ini.

Latar cerita banyak mengambil lokasi sekolah, lingkungan dan rumah Parker. Deskripsi latar mencukupi.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Prolognya yang menarik adalah salah satu yang selalu saya tunggu di tiap buku. Istilah “kesan pertama sungguh menggoda”, memang berlaku juga untuk buku-buku kan ya. Sebab tak jarang prolog cerita dibawakan begitu datar hingga pembaca yang tak sabaran pasti akan segera bosan. Nah, untuk buku ini saya senang sekali ketika menemukan sebuah prolog yang menurut saya menarik. Nanti teman-teman bisa putuskan sendiri opini masing-masing ya. Berikut saya kutipkan akhir prolognya.

Pada saat itulah aku terbangun, seperti biasanya. Tetapi, semua itu benar-benar terjadi pada tanggal 3 Juni yang lalu, satu minggu setelah libur sekolah dimulai dan dua minggu setelah ulang tahunku yang keenam belas.

Yah, kecuali untuk dua hal. Pertama, aku benar-benar nyaris menabrak van keluarga Reiches, tapi itu terjadi pada hari yang berbeda dua minggu setelahnya. Dan kedua, ayahku tidak tergeletak di dasar tangga. Aku menemukannya terbujur kaku di tempat tidur, dan dia telah meninggal berjam-jam.

Halaman 9

 

Catatan kaki yang menjelaskan kata yang tidak dipahami juga terdapat di buku ini. Mulai dari penjelaskan tentang benda-benda hingga situasi tertentu yang ada di dalam cerita. Biasanya buku versi impornya belum tentu ada catatan yang serupa. Cuma buku-buku yang diterbitkan oleh Spring memang bisa dibilang selalu ada catatan seperti ini. Ini sangat berguna untuk saya. Selain menambah wawasan akan banyak hal yang tidak kita ketahui di dalam cerita,  pembaca juga jadi bisa lebih memahami dan masuk ke dalam cerita yang sedang dibaca.

Picture : Catatan kaki yang menjelaskan istilah atau situasi tertentu.

 

Jangan bingung saat menemukan ada beberapa bagian cerita yang sudut pandang ceritanya berbeda. Bagian itu adalah percakapan Parker dengan dirinya sendiri (sebenarnya ditujukan ke mendiang ayahnya). Paragrafnya dibedakan dengan jenis huruf yang digunakan. Di satu sisi, model seperti ini bisa menjadi variasi dalam alur cerita, dan di sisi lain juga terasa lebih dekat pada emosi pembaca. Saya suka cara penulis menyisipkan percakapan-percakapan ini dalam ceritanya.

 

Buku Not If I See You First jelas termasuk ke dalam buku yang mampu memunculkan emosi saya. Semua ini berkat kecakapan dalam mengolah kata dan cerita. Siap-siap deh untuk ikut sedih, berdebar, kagum, dan antusias saat mengikuti cerita. Beberapa di antaranya saya kutipkan di bawah ini.

Napasku memburu. Aku tidak bisa menjelaskan tentang ini tanpa merasakan semuanya sekali lagi, seakan kejadian itu sedang terjadi saat ini. Kepanikan yang menyesakkan karena memercayai seseorang sepenuhnya, meminum kepercayaan itu, dan tiba-tiba saja berubah menjadi racun yang panas membakar. Aku menarik napas lebih dalam untuk menenangkan diriku.

Halaman 57

# Saat membaca bagian ini saya diliputi perasaan penasaran “Apa sih yang terjadi pada Parker dan Scott?”, lalu ketika tahu duduk permasalahannya, saya juga turut merasa marah, sedih, dan menyesalkan kejadian itu.

 

Yah, dia menuliskan sudut-sudut di atasnya, kan? Dan seberapa panjang garis-garisnya? Ini sama seperti dalam geometri dengan segitiga-segitiga spesial itu, misalnya segitiga bersudut 45-45-90 derajat memiliki hipotenusa yang panjangnya sama dengan panjang sisi segitiga dikali akar pangkat dua. Kecuali kalau radius lingkarannya dua, semua angka itu akan membutuhkan angka dua di depan mereka, tapi bukan itu intinya. Ini seperti menyederhanakan pecahan; kau membagi dengan faktor-faktor persekutuan terbesar dan kau akan mendapatkan... yah, sebuah lingkaran satuan.”

“Okee.. tapi lalu kenapa? Untuk apa?”

Pada momen itu aku menyadari kelas sangat sunyi. Tidak ada yang bicara, tidak ada yang mencicit.

Halaman 105

# Meski buta, Parker jelas cerdas. Kagum juga saat menyimak adegan dimana Parker menjelaskan satu bagian pelajaran Trigonometri di kelasnya. Ada adegan-adegan lainnya juga yang membuat kita kembali kagum pada Parker. Untuk tahu hal itu, teman-teman silakan membaca sendiri bukunya ya.

 

Bagi saya, di dalam buku ini saya banyak mendapatkan pengetahuan baru tentang banyak hal, terutama yang berhubungan dengan kehidupan mereka yang tuna netra. Saya baru tahu bahwa ada film yang bisa ditonton dengan mode Descriptive Audio misalnya. Atau mereka yang tuna netra bisa menggunakan software text-to-speech untuk membantu mereka membaca di internet. Itu baru dua hal baru, dan masih banyak yang lainnya. Buku ini jadi terasa menarik karenanya.

Selama sebelas jam ke depan, kami menonton trilogi “Lord of The Rings” dengan mode Descriptive Audio dinyalakan. Rasanya luar biasa lucu. Mendengarkan sang narator memberikan deskripsi datar yang cepat dan tenang mengenai ekspresi cengeng Frodo, panah-panah yang menembus rongga mata, pandangan Arwen yang penuh perasan tentang cinta abadi, dan pemenggalan kepala orc yang tidak terhitung membuat kami meraung dan terbahak-bahak pada satu momen dan saling menyuruh diam di momen berikutnya.

Halaman 120

 

Menyimak cerita Parker membuat saya menjadi lebih memahami kehidupan mereka yang tidak bisa melihat. Ternyata ada banyak hal yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya.

Aku duduk di tempat tidur dengan laptopku, membaca dengan bantuan suara Stephen Hawking. Aku jarang membaca buku braille sungguhan dan hanya sesekali menggunakan Terminal Braille. Aku lebih sering mendengarkan audiobook atau berselancar di internet dengan perangkat lunak text-to-speech, dan cara apa yang lebih baik untuk belajar selain dengan mendengarkannya dari orang terpandai di dunia?

Halaman 30

 

Bahkan ada lebih banyak lagi yang baru aku ketahui tentang pikiran dan perasaan seseorang yang kondisinya seperti Parker Grant. Peraturan Parker memang sesuatu yang luar biasa.

 

Kadang-kadang cerita Parker juga membuat saya berpikir.

Chemistry

Itulah kata yang luput dariku siang tadi. Sesuatu yang membuatmu berbicara kepada seseorang, ingin berbicara lebih banyak dengan mereka, atau untuk merasakan tangan mereka di pundakmu, meski kau tidak terlalu mengenal mereka. Lebih dari sekadar kata-kata yang baik atau memesona dari seseorang yang asing; tapi kata yang tepat, atau kata-kata yang sangat serasi degan kata-katamu.

Halaman 180

# Oh jadi seperti itu ya chemistry itu. Pikiran saya melayang pada beberapa orang yang saya kenal dalam hidup saya, dan menimbang-nimbang saya dengan dia punya chemistry ga ya :D

 

Siapa yang suka jumputan di sini? :D. Saya suka. Bahkan belum lama ini saya sudah mulai rutin membuat kain jumputan sendiri dengan teknik shibori. Jadi wajar ya kalau percakapan yang mengungkit tentang jumputan jadi menarik minat saya. Ternyata Parker punya kain penutup mata bermotif jumputan.

Aku memakai kain penutup mata dengan motif jumputan hari ini. Aku merasakan kesempatan. Aku meraih ekor syalku dan mengangkatnya.

Halaman 55

 

Sebagai cerita romance, kisah cinta Parker dan Scott manis dan cukup mengharukan. Kira-kira seperti itulah cinta yang mendalam dan pengorbanan. Mau tak mau saya juga jadi suka dengan tokoh Scott karena kebaikan dan ketulusannya. Sedangkan untuk sisi persahabatan, Parker, Sarah, Faith, Molly bisa dibilang dapat menjadi contoh yang bagus untuk ditiru. Mereka setia, saling mendukung, dan saling peduli. Begitupun sisi keluarga yang ditonjolkan dalam cerita melalui hubungan tokoh Sheila dan Parker yang tak begitu mulus awalnya. Jelas ada banyak yang bisa kita ambil dengan membaca buku Not If I See You First, bukan hanya soal cinta, persahabatan dan keluarga, tapi juga soal karakter dalam diri manusia. Melalui konflik karakter Parker dan tokoh lainnya kita bisa mengambil pesan tersendiri, salah satunya tentang mengatakan kebenaran, berbicara apa adanya, dan sikap egois.

Beberapa adegan memang agak terlalu berlebihan menurut saya. Tapi setelah dipikir-pikir mungkin juga tidak, mengingat tokoh-tokohnya yang masih remaja dan pasti emosional, adegan penuh luapan Parker di sekolah jadi terlihat normal saja. Mungkin buat yang tidak begitu suka kalimat yang “mendayu-dayu” akan sedikit terganggu dengan itu. Selain itu satu dua kali saya pernah kehilangan arah percakapan, agak terbelit dan bingung kalimat yang ini sedang diucapkan oleh siapa dan yang itu oleh siapa, sehingga saya harus mengulang baca agar paham. Mungkin juga karena pada saat itu fokus saya sedang terbagi dengan hal yang lain. Semoga teman-teman tidak mengalaminya ya.

 

Lalu, sebagai penutup, kalimat ini saya kutipkan karena maknanya yang dekat dengan karakter tokoh utama sekaligus salah satu pesan yang terdapat di dalam cerita.

“Kebenaran bukanlah kebahagiaan, hanya kebenaran semata.”

Halaman 329

 

Oh iya, saya hampir lupa. Di dalam buku ini ada beberapa huruf braille yang tidak bisa saya baca. Sebenarnya bisa dicari tahu di google katanya. Silakan teman-teman cari tahu sendiri ya kalau penasaran :D.

Picture : Kalimat yang menggunakan huruf braille yang tersebar di dalam buku

 

Siapa Eric Lindstrom

Eric Lindstrom adalah penulis novel young adult. Pengalamannya sebagai penulis sudah bertahun-tahun lamanya. Eric Lindstrom adalah co-writer dari Tomb Raider: Legend video game dan dia mendapatkan penghargaan BAFTA nomination for Best Video Game Screenplay 2006 dan WGA nominasi untuk Best Writing 2009. Jadi tak heran ya jika novel Not If I See You First bisa sebagus itu.

Novel Not If I See You First adalah novel debutnya yang dipublikasikan pertama kali tahun 2015  di Amerika Serikat dan diterjemahkan serta dipublikasikan di Indonesia untuk pertama kalinya oleh Penerbit Haru pada tahun 2018. Novel keduanya berjudul A Tragic Kind of Wonderful. Banyak pembaca yang mengontak Eric Lindstrom dan berharap ia dapat meneruskan kisah Parker Grant ke dalam buku-buku berikutnya.

Buku Not If I See You First mendapatkan rating 4,2 di situs Amazon dan 3,93 di situs Goodreads.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca buku yang menyukai genre young adult dengan tokoh-tokoh yang masih sekolah di jenjang SMA. Gaya bahasa dan kemampuan mengolah cerita membuat buku ini tidak hanya menghibur tapi juga memiliki banyak pesan tentang cinta, persahabatan, kekeluargaan, dan pengembangan diri. Alur cerita proporsional, dan tokoh-tokohnya yang berkarakter menunjang keberhasilan jalan cerita yang dibawakan. Tokoh utama, Parker Grant, yang seorang tuna netra juga membuat kita jadi lebih banyak memahami kehidupan mereka yang tidak dapat melihat. Konfliknya tidak terlalu rumit, dan kisah romancenya sweet. Teman-teman pasti akan suka.

My Rating : 4/5

 

GIVE AWAY

Selama periode 26 – 30 Maret 2018, teman-teman bisa mengikuti Give Away Blogtour Novel Not If I See You First – Eric Lindstrom ya. Cara mengikuti give awaynya adalah dengan mengumpulkan jawaban dari tiap pertanyaan yang terdapat di akhir review tiap host buku Not If I See You First, lalu gunakan untuk menjawab teka-teki silang Give Away buku ini di Facebook Penerbit Spring di tanggal yang telah ditentukan.

Nah, ini dia pertanyaan untuk give away saya.
"Siapa nama teman pendamping Parker belajar di sekolah?” 

Sudah tahu jawabannya? Simpan jawaban teman-teman dan gunakan nanti saat mengisi teka-teki silang Give Away nya ya. Semoga kamu pemenangnya. Pemilihan dan pengumuman pemenang ditentukan dan diumumkan di facebook Penerbit Spring.

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku The Girl Who Drank the Moon - Kelly Barnhill

Published: Tuesday, 20 March 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : The Girl Who Drank The Moon

Penulis : Kelly Barnhill 

Jenis Buku : Novel Fantasi

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Tahun Terbit : 2017

Jumlah Halaman :  420 halaman

Harga : Rp. 115.000

ISBN : 978-602-394-731-7

Edisi Terjemahan

Pengalih Bahasa : Marcalais Fransisca

Desain : Aditya Ramadhita

Penata Letak : Dias Aditya Andrianto

 

Sekelumit Tentang Isi

Tiap tahun desa Protektorat mengorbankan seorang bayi untuk sang penyihir di hutan dan sebagai balasannya desa mereka akan aman dari  petaka dan gangguan penyihir tersebut. Penduduk desa tidak pernah tahu bahwa Xan si penyihir justru baik hati dan suka menolong banyak orang. Xan justru bingung mengapa setiap tahun selalu ada seorang bayi malang yang ditinggalkan oleh penduduk desa di hutan. Jika Xan tidak cepat menyelamatkan dan membawa pergi bayi itu, pasti akan ada banyak bayi-bayi yang mati di hutan karena kelaparan atau dimangsa hewan liar. Xan akan mencari orangtua angkat untuk tiap bayi, dan merawat sementara bayi tersebut dengan sinar bintang dalam perjalanannya menuju desa lain di sisi hutan.

Suatu hari Xan tanpa sengaja memberi makan seorang bayi cantik dengan sinar bulan dan bukannya sinar bintang. Bayi tersebut menjadi bayi sihir. Xan kemudian memutuskan untuk merawat sendiri bayi itu dan menganggapnya seperti cucu. Bersama monster rawa baik hati bernama Glerk dan naga mungil Fyrian, mereka merawat Luna dengan penuh cinta. Luna tumbuh menjadi gadis kecil yang memiliki kekuatan sihir yang sangat besar. Karena khawatir sihirnya yang kuat dapat membahayakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya, Xan memantrai Luna sehingga sihirnya terbendung dan akan terbuka dengan sendirinya ketika Luna berumur 13 tahun nanti, saat Luna sudah mengerti arti kebaikan dan lebih bisa berpikir logis dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik. Semua seolah berjalan sesuai rencana, kecuali kenyataan bahwa Xan kian tahun kian lemah keadaannya.

Sementara itu seorang pemuda di desa Protektorat memutuskan untuk membebaskan rakyat Protektorat dari cengkraman penyihir. Ia akan membunuh penyihir tersebut agar penduduk tidak perlu lagi mengorbankan anak yang mereka cintai. Beredar pula bahwa si Pelahap Derita lah penjahat yang sebenarnya yang selama ini membuat penduduk hidup sengsara.

Pada akhirnya hanya Luna yang mampu melindungi orang-orang yang ia cintai dan orang-orang yang tak bersalah. Namun, mampukah Luna melakukan itu semua dan bersedia menerima konsekuensi kehilangan orang yang sangat ia cintai dan mengorbankan keselamatan dirinya sendiri? Apakah rencana pembunuhan terhadap Xan berhasil dilakukan? Siapakah yang sebenarnya menyebabkan penduduk Protektorat menderita selama bertahun-tahun lamanya?

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Pada kenyataannya memang disain coverlah yang membuat saya tertarik pada buku ini. Pandangan pertama memang sungguh menggoda. Baik pilihan warna maupun ilustrasi gambar di cover buku sangat eye catching menurut saya. Saya tidak tahu pendapat teman-teman bagaimana? Mungkin ada yang sependapat dengan saya, mungkin juga tidak.

Hanya saja ketika saya sudah selesai membaca buku ini, saya merasa ada yang kurang. Mungkin karena saya biasa melihat buku bergenre fantasi ala ala dongeng dan dapat dibaca semua usia seperti ini biasanya kaya akan ilustrasi gambar di halaman ceritanya, maka saya agak sedikit bingung ketika mendapati buku ini polos dari ilustrasi. Berhubung saya memang suka dengan gambar visual, saya berharap di dalam buku ada halaman yang berisi ilustrasi penyihir, monster rawa, dan beberapa latar yang diceritakan. Tapi untungnya meski nihil ilustrasi, saya tidak merasa kesulitan untuk berimajinasi.

Tampaknya meski sama-sama buku bergenre fantasi-dongeng, The Girl Who Drank The Moon cukup bertolak belakang dengan buku The Language of Thorns - Leigh Bardugo yang kaya akan ilustrasi gambar warna-warni di tiap halamannya.

Baca juga Review Buku "The Language of Thorns - Leigh Bardugo"

 

Tokoh dan Karakter

Tokoh-tokoh inti dalam buku ini adalah Xan, Luna, wanita di menara, Glerk, Fyrian, dan Attain. Teman-teman kemungkinan akan sangat menyukai tokoh Xan mengingat dia bukan cuma sakti sebagai penyihir tapi juga baik hati. Glerk sang monster rawa adalah pujangga yang ahli dan tergila-gila pada puisi. Dia juga monster yang baik hati. Fyrian si naga mungil punya sifat kekanak-kanakan, tapi ia setia dan sangat cinta pada Xan, Glerk, dan Luna. Attain pemuda yang baik hati, ia sebenarnya takut tapi memberanikan diri demi orang-orang yang ia cintai, sikapnya sederhana, dan ia punya bakat yang besar. Wanita di menara adalah misteri awalnya. Ia salah seorang manusia yang istimewa, yang ditakdirkan untuk memiliki kekuatan sihir meski ia bukan penyihir. Cintanya yang besar dan penderitaannya yang dalam membuatnya seperti gila, tapi akhirnya ia bisa menghadirkan kembali harapan di dalam hatinya yang gelap.

Deskripsi fisik untuk tokoh-tokoh yang ada dalam cerita menurut saya mencukupi, sehingga saya tidak kesulitan saat mengimajinasikannya dalam pikiran. Belum lagi gaya bahasa yang luwes dan memiliki humor. Seringkali mengundang senyum di bibir saya di saat-saat yang tak terduga. Contohnya saat membaca bagian yang ini.

Di tepi paya itu, tegak di pinggir alang-alang berbunga yang tumbuh di atas tanah becek, seorang wanta yang sangat tua berdiri bersandar pada sebatang tongkat berbonggol. Wanita itu pendek dan gempal dan sedikit buncit perutnya. Rambut keritingnya yang keriting, yang kelabu ditarik ke belakang membentuk sanggul tebal berkepang dengan dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh dari celah-celah tipis kepangan beruntir itu. Wajahnya, meskipun dengan rona jengkel, memancarkan sinar dari mata tuanya dan sesungging tipis senyum dari mulutnya yang rata dan lebar. Dari sudut tertentu, ia agak mirp dengan katak besar yang ceria.

Halaman 22-23      

# untuk deskripsi fisik tokoh yang dibawakan cukup serius, penutup kalimat “mirip dengan katak besar yang ceria” bagi saya terasa kontras dengan keseriusan kalimat-kalimat sebelumnya. Mau tak mau saya membayangkan seperti apa katak besar yang ceria itu, dan tentu saja itu semua jadi terasa lucu.

 

Alur dan Latar

Alur cerita di buku ini maju. Tidak ada alur yang terpotong atau terasa tidak proporsional. Justru cerita terasa begitu mengalir.

Latar-latar yang digunakan dalam cerita meliputi keadaan desa, hutan, rumah dan rawa tempat Xan tinggal bersama Glerk dan Fyrian saat membesarkan Luna, menara, dan beberapa tempat sekitar itu. Latar-latar yang penting dideskripsikan dengan lebih detail sedangkan latar penunjang diberi deskripsi yang secukupnya saja. Latar favorit saya tentu saja rumah pohon milik Xan.  

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Bagian terbaik dari buku ini salah satunya adalah ide fantasi yang benar-benar baru bagi saya. Selain itu fantasi ini didukung pula oleh bahasa yang baik sehingga saya sebagai pembaca bisa menikmatinya dan merasa sangat terhibur.

Seiring waktu, Xan membuat persiapan tertentu – selimut yang ditenun dari bulu domba paling lembut untuk membungkus si bayi dan menjaganya tetap hangat, setumpuk kain untuk mengganti popok yang basah, satu atau dua botol susu kambing untuk mengisi perut yang kosong. Jika susu kambingnya habis (seperti yang kadang kala terjadi – karena perjalanannya panjang, dan susunya berat), Xan melakukan hal yang akan dilakukan semua penyihir berakal sehat; saat hari sudah cukup gelap sehingga bintang-bintang kelihatan, ia mengangkat satu tangan dan mengumpulkan cahaya bintang dengan jemarinya, seperti benang sutra dari jaring laba-laba, dan memberi makan si anak dengan cahaya bintang itu. Seperti semua penyihir tahu, cahaya bintang aadalah makanan yang sangat baik untuk bayi yang sedang tumbuh. Mengumpulkan cahaya bintang membutuhkan keterampilan dan bakat tertentu (salah satunya, kemampuan sihir), tetapi anak-anak sangat doyan melahapnya. Mereka menjadi gemuk, kenyang, dan bercahaya.

Halaman 28

             

Untuk teman-teman yang menyukai puisi, kemungkinan teman-teman pun akan menyukai buku ini karena Glerk sang Monster Rawa adalah pujangga tulen yang tak pernah lupa untuk membacakan syair atau bahkan menyanyikan sebuah bait puisi. Puisi-puisinya memang tak begitu bisa saya nikmati maknanya. Tapi mungkin teman-teman bisa.

“Lahirlah cahaya

Lahirlah angkasa

Lahirlah masa tak terhingga,

Dan ke butiran pasirlah

Semua hal akan kembali.”

Halaman 45

 

Sisi emosi yang dibangun oleh penulis berhasil dengan baik. Selama membaca cerita ini saya ikut merasa senang, sedih, dan terharu. Actionnya harus diakui memang tidak terlalu memacu adrenalin, tapi rasanya untuk ukuran cerita fantasi dongeng memang tidak pernah ada adegan perkelahian yang super seru dan penuh kekerasan. Beberapa bagian cerita juga beradegankan kelakukan anak kecil yang kalau penulisnya tak pandai pasti tak dapat menuangkannya dalam tulisan. Tapi semua yang tertulis di buku ini berhasil membawa emosi dengan baik.

Bayi itu memandang Glerk yang sedang berjalan, mengamati bola matanya yang menonjol, telinga kerucutnya, dan bibir  tebal yang terpasang di rahang yang lebar. Ia mengamati setiap kutil, setiap lekukan, dan setiap benjolan berlendir di wajah si monster yang besar dan datar dengan tatapan takjub. Si bayi menjulurkan satu jari dan dengan penasaran menusukkannya ke salah satu lubang hidup Glerk. Glerk bersin, dan anak itu tertawa.

“Glerk,” kata si bayi, walaupun mungkin sebenarnya ia sedang cegukan dan sendawa. Glerk tidak peduli. Bocah itu mengucapkan namanya. Dia mengatakannya. Hatinya nyaris meledak.

Xan, berusaha sebisa mungkin menahan diri untuk tidak mengatakan, kan aku sudah bilang. Ia berhasil.

Halaman 45

# yang dekat dengan anak kecil pasti tahu kelakuan bayi dan balita yang suka memasukkan jari-jari mereka ke dalam mulut atau hidung orang yang ada di dekatnya dan dekat di hati mereka. Momennya mengundang senyum dan memang menghadirkan kehangatan di hati. Apalagi kalau si kecil bisa mengucapkan nama kita.

 

Kemudian, ketika sesuatu yang tumbuh itu telah dihilangkan dan otak sang kepala sekolah sudah sembuh dan ia tidur dengan nyenyak, Xan merasa akhirnya ia dapat santai. Matanya tertuju kepada mangkuk di atas meja. Mangkuk berisi adonan roti yang sedang mengembang.

Namun, sama sekali tidak ada adonan roti di mangkuk itu. Yang ada justru sebuah topi – bertepi lebar dan penuh hiasan rumit. Topi tercantik yang pernah dilihat Xan.

“Astaga,” bisik Xan, memungut topi itu dan menangkap tali sihir yang terikat di dalamnya. Biru. Dengan kilau perak di tepi-tepinya. Sihir Luna. “Astaga, astaga.”

Halaman 62

# Itu adegan pertama kali Luna bisa sihir di usianya yang masih sangat kecil. Bukan cuma Xan yang kaget, saya pun jadi ikut terkaget-kaget.

 

Para mantan suster menunggu mereka di kamar yang kosong. “Kami tidak tahu apa yang terjadi,” kata mereka dengan mata berkaca-kaca. Tempat tidur kosong, dan dingin. Tak ada tanda-tanda Xan di mana pun.

Luna merasa hatinya mati rasa. Ia memandang ibunya, yang bermata sama. Dengan tanda yang sama di keningnya. Tak ada cinta tanpa kehilangan, pikirnya. Ibuku tahu ini. Sekarang aku juga tahu. Ibunya meremas lembut tangan Luna dan mengecup rambut hitam gadis itu. Luna duduk di ranjang, tetapi ia tidak menangis.

Halaman 390

# Ini salah satu bagian yang sedih dalam cerita

 

Jika teman-teman membaca buku ini, teman-teman akan menemukan ada beberapa bab yang berbeda gaya penuturannya. Di Bab tersebut seolah-olah ada seseorang yang sedang mendongeng. Awalnya akan terasa membingungkan untuk pembaca karena perbedaan sudut pandang cerita.

 

Yang saya juga sukai dari buku ini adalah bukan cuma jalan ceritanya saja yang menarik, tapi juga karena pesan moralnya yang banyak. Beberapa di antaranya saya kutipkan di bawah ini.

Hal-hal terindah di dunia justru tak tampak oleh mata.

Halaman 183

 

... dengan meminta maaf, kau mungkin dapat mulai menyembuhkan diri. Itu bukan untuk kami. Itu demi dirimu sendiri.

Halaman 384

 

Siapa Kelly Barnhill

Kelly Barnhill adalah penulis Amerika yang karya-karyanya bergenre children's literature, fantasy, dan science fiction. Buku-buku yang ia tulis telah mendapatkan banyak penghargaan, beberapa di antaranya adalah Parents Choice Gold Award, Texas Library Association Bluebonnet Award, Charlote Huck Honor, Andre Norton Award,PEN/USA literary Prize, World Fantasy Award. Seperti halnya The Witch’s Boy, novel debutnya The Mostly True Story of Jack mendapatkan review bintang empat. Buku keduanya, Iron Hearted Violet lah yang meraih penghargaan Parent's Choice Gold Award dan menjadi nominasi ajang penghargaan Andre Norton Award.

Buku The Girl Who Drank the Moon juga mendapatkan banyak penghargaan, yaitu :

  • Pemenang Newbery Medal 2017
  • Best Midle Grade Book 2016 versi Entertainment Weekly
  • Buku Terbaik 2016 versi New York Public Library
  • Buku Terbaik 2016 versi Chicago Public Library
  • Termasuk Daftar 20 Buku Terbaik 2016 versi Amazon
  • Buku Terbaik 2016 versi Publishers Weekly
  • Buku Terbaik 2016 versi School Library Journal
  • Nominasi Buku Terbaik 2016 versi KirkusReviews

Karya lain Kelly Barnhill adalah :

  • The Mostly True Story of Jack
  • Iron Hearted Violet
  • The Witch’s Boy

The Girl Who Drank The Moon mendapatkan rating 4.6 di Amazon, dan 4.18 di Goodreads. Tahun 2017 Buku ini juga menjadi buku juara di ajang Goodreads Choice. 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan untuk pembaca semua usia yang menyukai buku bergenre fantasi atau dongeng yang tokoh-tokohnya melibatkan penyihir, naga, monster, berikut mantra-mantranya. Mereka yang menyukai buku dengan pesan moral yang baik juga saya rekomendasikan untuk membaca buku ini. Ide fantasinya bisa dibilang baru. Ditunjang oleh deskripsi latar, tokoh, serta bahasa yang luwes, cerita di dalam buku ini menjadi sangat hidup dan sangat menghibur. Terjemahannya pun baik.

 

My Rating : 4/5

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Kisah Hidup A.J. Fikry (The Storied Life of A.J. Fikry - Gabrielle Zevin

Published: Wednesday, 27 December 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

 

Judul : Kisah Hidup A.J. Fikry

Judul Asli : The Storied Life of A.J. Fikry

Penulis : Gabrielle Zevin

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : Cetakan Pertama 2017

Jumlah Halaman :  280 halaman

Dimensi Buku : 20 cm

Harga : Rp. 69.000

Edisi Terjemahan

New York Times Bestseller

  

Sekelumit Tentang Isi 

A.J.Fikry hidup sendiri di toko bukunya yang berada di sebuah pulau kecil bernama Pulau Alice. Ditinggal meninggal istri yang ia cintai membuat hidupnya kacau. Pergi mabuk-mabukan di malam hari sambil menghibur diri dengan buku langka koleksinya tampaknya makin sering ia lakukan. Hingga suatu ketika, di salah satu malam yang memabukkan itu, paginya A.J. bangun dengan mendapati dirinya sudah terbaring di ranjangnya, bekas minum sudah dirapihkan, tapi buku langka yang sangat berharga itu raib entah kemana.

Tentu saja A.J. melaporkan kasus pencurian itu kepada petugas kepolisian setempat yang meresponnya dengan tanpa antusias. A.J. juga pergi ke dokter untuk berkonsultasi masalah kesehatannya. Tampaknya sekarang ia sudah tidak bisa lagi pensiun dini karena rencana menjual buku langka dan menutup toko buku tentu sudah tak dapat lagi ia lakukan.

A.J. mulai berolahraga lari pagi kembali, demi kesehatan (tak bisa pensiun, harus bekerja berarti harus sehat). Memutuskan tak ada yang cukup berharga untuk dicuri di rumah yang merangkap toko buku itu, A.J. pergi jogging tanpa mengunci pintu. Dan ketika ia kembali ke rumah, ada bingkisan besar penuh kejutan untuknya entah dari siapa.

Seorang bayi perempuan yang cerdas, cantik dan bermata bening tampak nyaman berada di toko bukunya. Apa yang bisa A.J. lakukan dengan bayi itu (?), merawat diri dan rumahnya saja ia tak tampak kompeten. Tapi justru kehadiran bayi inilah yang merupakan awal kehidupan baru bagi A.J. Fikry, kehidupan percintaan, keluarga, persahabatan, dan bahkan usaha toko bukunya.

Sementara itu Amelia, agen buku dari kota datang ke toko buku Island milik A.J. untuk menawarkan buku-buku yang ada di katalognya. Pertemuannya yang pertama dengan A.J. jauh daripada mulus. Jelas A.J. tampak ketus dan tak menyukainya. Tapi Amelia adalah marketing yang cerdas dan tak kenal menyerah. Bagaimanapun juga ia akan berhasil menjual buku-buku pada pemilik toko buku Island yang aneh itu.

Apa yang A.J. lakukan pada bayi itu? Bagaimana cerita bergulir hingga A.J. bisa menemukan kembali kebahagiaannya yang hilang? Seperti apa akhir kisah ini? Berhasilkan Amelia menjalin hubungan kerjasama dengan A.J.? Apakah mereka akan menjadi pasangan? 

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Sekalipun pilihan disain cover bukunya sangat berkesesuaian dengan isi ceritanya, namun tetap saja seandainya ada pilihan cover lain saya mungkin akan memilih disain yang lain saja. Disain yang ini perpaduan warna dan gambarnya begitu "abstrak". Toko buku A.J. tampak sempit, gelap, dan penuh ditumpuk buku-buku dengan sembarang penempatan. Pada dasarnya saya memang tipe yang mudah "sakit mata" jika melihat susunan barang yang kurang rapi atau perpaduan warna yang asal tabrak.

Akhirnya saya intiplah cover buku versi bahasa Inggrisnya. Nah, disain yang ini lebih saya suka. Tapi masalah disain memang akan kembali pada selera ya. Teman-teman mungkin akan sangat menyukai cover buku ini.

Picture : Cover buku edisi bahasa Inggris

 

Tokoh dan Karakter

Saya suka tokoh A.J. Fikry dan karakternya yang unik. Dia cerdas, kutu buku tulen, pada dasarnya ia juga orang yang cukup peduli serta penyayang. Lalu ada Amelia, gadis sederhana tapi berpembawaan menarik, serta balita mungil yang cerdas dan lebih dewasa dari usianya, namanya Maya. Polisi Lambaise yang digambarkan jauh dari tampan ternyata memiliki hati yang baik dan kelembutan yang tak terduga. Beberapa tokoh lainnya seperti ibunya Maya, kakak ipar A.J. serta suaminya yang suka selingkuh turut melengkapi alur cerita.

Tentu saja, A.J. Fikry adalah tokoh favorit saya di buku ini. Begitu mengena karena saya pun cinta buku, bercita-cita punya toko buku, dan A.J. kok ya cerdas banget orangnya, dan dia juga lucu dengan gaya bicaranya yang serius itu.

 

Alur dan Latar

Alur cerita rapi dan proporsional. Bisa dibilang ujungnya nyaris tidak tertebak. Buku ini serius tapi kocak, bikin ketawa tapi kok sedih, jadi bisa dibayangkan seperti apa alur ceritanya serta bagaimana permainan emosi yang ada dalam buku Kisah Hidup A.J.Fikry.

Dengan latar Pulau Alice yang manis namun sendu itu, kisah A.J. terasa begitu hidup. Toko buku sastranya A.J. yang unik, benar-benar tergambarkan dengan baik di sini. 

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Hal pertama yang menarik perhatian saya tentu saja sebuah tulisan singkat yang sepertinya membahas sebuah buku di tiap awal bab. Buat saya tulisan ini membingungkan, bukan hanya karena buku-buku yang dibicarakan sebagian besar tidak saya pahami tapi juga karena saya belum mengerti mengapa A.J. Fikry menuliskan itu semua, dan untuk siapa? Seperti biasa, hal-hal yang tidak saya pahami justru membuat saya merasa penasaran. Apakah dengan membaca terus halaman-demi halanan cerita A.J. Fiky akhirnya membuat saya paham? Ya, saya akhirnya mengerti, dan saya yakin teman-teman juga akan memahami maksud tulisan tersebut.

 

Humor-humor halus terselip di dalam cerita. Tentu saja tidak eksplisit, sangking halusnya bahkan mungkin tidak terasa seperti humor, tapi saya tersenyum gara-gara membaca paragraf ini.

Meski begitu, Amelia tidak membiarkan dirinya yakin sampai hidangan penutup, sewaktu ia menanyakan tentang buku yang paling berpengaruh dalam hidup Boyd, dan pria itu menjawab Prinsip-prinsip Akuntansi, Bagian II.

Dengan halus Amelia menolak, ia tidak ingin berkencan lagi.

Halaman 11

 

Toko buku milik A.J. Fikry memang unik ya, hanya menjual buku sastra katanya 😁. Bahkan di papan penanda tokonya, di bawah tulisan nama toko ada sebuah kalimat kutipan.

ISLAND BOOKS

Penyedia Ekslusif Konten Karya Sastra Unggulan

di Pulau Alice Sejak Tahun 1999

Manusia Tidak Bisa Hidup Sendiri

Setiap Buku Membuka Jendela Dunia

Halaman 13

 

Humor di bagian yang ini bahkan lebih menggelitik lagi.

A.J. memotongnya, "Buku ini tidak cocok untukku."

"Baiklah, kalau begitu akan kujelaskan tentang buku lain."

A.J. menarik napas dalam-dalam. "Kelihatannya kau wanita muda yang baik, tapi pendahulumu... Begini, Harvey tahu seleraku. Seleranya sama dengan seleraku."

Amelia meletakkan buku promosi itu di meja. "Aku ingin mendapatkan kesempatan untuk mengetahui seleramu, "katanya, merasa seperti tokoh di cerita porno.

Halaman 17

 

Mungkin karena saya adalah seorang penggemar buku-buku, jadi mau tak mau setiap percakapannya memang terasa personal. Banyak judul-judul buku yang disebutkan di sepanjang cerita, dan pendapat A.J. Fikry yang notabene sebenarnya hanyalah seorang tokoh di dalam cerita tetap saja masuk ke dalam pikiran saya seperti pendapat seseorang  yang saya kenal di dunia nyata. Betapa menariknya percakapan soal buku-buku ini, meski saya khawatir untuk yang tidak begitu mengikuti buku atau mencintai buku bagian percakapan seperti ini akan gagal dipersepsikan dengan benar.

"Orang suka berkata seperti itu," jawab A.J "Tapi itu kesalahan seseorang. Itu kesalahannya. Tindakannya itu bodoh. Yang dilakukannya itu tindakan melodramatis bodoh. Seperti cerita Danielle Stell saja. Nik! Seadainya ini novel, aku tentu akan berhenti membaca sekarang. Akan kulempar novel itu ke seberang ruangan."

Halaman 26

Si polisi (yang jarang membaca, kecuali novel paperback cetakan masal karya Jeffery Deaver, saat sedang berlibur) mencoba mengalihkan pembicaraan kembali ke realitas. "Itu benar. Kau punya toko buku".

Halaman 26

 

Setelah saya pikir-pikir, kekuatan buku ini memang terletak di percakapannya. Pilihan bahasanya, susunan kalimatnya, dan cara Gabrielle Zebin mengolah tiap paragraf sehingga bisa mengajak emosi pembaca larut pada alur cerita. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah film yang saya tonton dulu kala. Topik film tersebut sebenarnya sangat sederhana, tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta ada seorang wanita yang ditemuinya di perjalanan. Bisa dibayangkan ya betapa bakal monotonnya film ini. Tapi setelah saya menyimak percakapan-percakapannya yang cerdas dan lucu, tak terasa tahu-tahu saya sudah menonton hingga film itu usai. Begitupun dengan buku ini, percakapannya lah yang menurut saya yang menjadi salah satu kekuatannya.

Dulu aku pelari jarak jauh, tapi sekarang aku tidak berolahraga sama sekali. Aku tinggal sendirian dan tidak memiliki hubangan pribadi yang bermakna. Sejak istriku meninggal, aku juga membenci pekerjaanku."

"Oh, begitu ya? tanya si dokter. "Kau masih muda, Mr. Fikry, tapi tubuhmu hanya bisa menanggung beban sampai batas tertentu. Jika kau mencoba bunuh diri, aku bisa memikirkan cara-cara yang lebih cepat dan mudah untuk melakukannya. Apakah kau ingin mati?"

Halaman 39

 

Bahkan paragraf yang tidak berbentuk percakapan pun tetap terasa asyik untuk disimak, begitu menggelitik 😁.

Karena tidak mungkin lagi pensiun dalam waktu dekat, A.J. membaca buku contoh, membalas e-mail, menjawab telepon, bahkan menulis satu-dua kartu promosi untuk diletakkan di rak Pada malam hari, setelah toko tutup, ia mulai berlari lagi. Ada banyak tantangan untuk lari jarak jauh, tapi salah satu tantangan terbesarnya adalah pertanyaan harus disimpan di manakah kunci rumahnya.

Halaman 44

 

Beberapa kalimat langsung saya catat sebagai quote.

"... masalah orang akan terselesaikan seandainya mereka mau memberi kesempatan bagi lebih banyak hal".

Halaman 17

 A.J.Fikry seolah mewakili hati dan pikiran setiap pecinta buku, yang tiap sel-sel dalam tubuhnya seolah-olah membuktikan hal tersebut. Bahkan, A.J. mengumpamakan orang dengan suatu buku sebagai pembandingnya. 😅. 

 

Siapa Gabrielle Zebin

Gabrielle Zevin adalah penulis terlaris internasional yang buku-bukunya sudah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Novel ke delapannya yang berjudul The Storied of A.J. Fikry (2014) menduduki list di New York Times Best Seller selama berbulan-bulan, serta mendapatkan predikat #1 di National Indie Best Seller List.

Gabrielle Zevin juga menulis buku-buku young adult, salah satunya yaitu buku yang berjudul Elsewhere. Pengalaman menulisnya sangat banyak, termasuk menulis untuk New York Times Book Review. Tak terlalu mengherankan juga karena Gabrielle Zevin sebenarnya adalah lulusan Harvard University dan memiiliki gelar di bidang English & American Literature. 

The Storied Life of A.J. Fikry mendapatkan poin 4,4 di Amazon, dan 3,98 di Goodreads.

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan pada pembaca usia dewasa yang menyukai novel tentang kisah hidup seseorang, tentang pecinta buku tulen, kisah cinta, keluarga, persahabatan, dan lagi-lagi banyak sekali tentang buku dan buku. Alurnya rapi dengan ending yang manis dan menyentuh. Bahasanya luwes dan cerdas, kualitas terjemahannya baik. Kalau kalian pecinta buku dan hobi membaca serta mengoleksinya, kemungkinan besar kalian akan menyukai buku ini.

Catatan : Hanya untuk pembaca dewasa. Terdapat percakapan-percakapan orang dewasa yang menjurus ke arah topik seksual.

 

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku Para Pendosa (Truly Madly Guilty) - Liane Moriarty

Published: Monday, 01 January 2018 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : Para Pendosa

Judul Asli : Truly Madly Guilty

Penulis : Liane Moriarty

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : November 2017

Jumlah Halaman :  600 halaman

Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm

Harga : Rp. 122.000

Edisi Terjemahan

 

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Semua tak sama lagi sejak kejadian di pesta barbeque itu. Clementine merasa Sam berubah menjadi dingin kepadanya. Persahabatannya dengan Erika kini sudah jauh dari pura-pura, bagaimanapun juga mereka mungkin memang tidak benar-benar saling mengasihi. Tiffany dan Vid juga menyimpan penyesalan yang tak sedikit, pesta barbekyu itu diadakan di rumah mereka. Putri mereka, Dakota, bahkan menyalahkan dirinya sendiri atas insiden yang terjadi saat itu. Lalu, Harry ditemukan mati. Harry mungkin memang bukan pribadi yang ramah, tapi tetap saja rasanya tak wajar menemukan tetangga sebelah rumahmu tewas dan baru ditemukan setelah berhari-hari lamanya.

Apa yang sebenarnya terjadi di pesta barbekyu hingga sangat mempengaruhi kehidupan orang-orang yang hadir setelahnya? Bagaimana nasib perkawinan Clementine dan Sam pada akhirnya? Apakah Erika dan suaminya, Oliver, bisa menemukan jalan untuk mendapatkan anak? Bagaimana pula nasib persahabatan Clementine dan Erika? Masa lalu apa yang disimpan Tiffany dari orang-orang? Apa kaitan kematian Harry dengan insiden di pesta barbekyu?

Ini kisah tentang kehidupan orang-orang yang dihantui oleh rasa bersalah. Ini tentang rahasia perasaan dan pikiran orang-orang, yang herannya yang terlihat paling jahat dan murahan justru sebenarnya paling mendekati kejujuran dan ketulusan.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

 

Saya pikir butir-butiran hujan di cover buku tak pelak lagi menggambarkan insiden yang terjadi di pesta barbekyu yang ada hubungannya dengan air. Dan pada saat yang sama, itu juga mengingatkan saya pada banyak adegan sendu di buku, yang melibatkan hujan. Erika yang terjebak hujan, sempoyongan masuk ke dalam taxi, dan Sam yang tubuhnya basah kuyup sepulang dari dermaga dalam keadaan linglung dan terhuyung-huyung. Yah, kegembiraan di awal cerita cuma kamuflase, kita akan menikmati banyak episode yang kelabu di buku ini. Saya suka disain covernya, cocok untuk ceritanya.

 

Tokoh dan Karakter

Liane Moriarty bukan penulis pemula tentu saja. Tokoh-tokoh yang ia ciptakan di buku ini memiliki karakter yang kuat. Mulai dari Erika, yang pendiam, pandai mengendalikan diri, pintar, dan dapat diandalkan, hingga Barney, si anjing milik Vid yang lucu, nakal, dan menggemaskan :D. Clementine, sahabat Erika, adalah seorang ibu yang ceroboh, lebih emosional, agak egois, dan secara keseluruhan karakternya cenderung lemah. Sam, suaminya, digambarkan sebagai suami yang penyayang, peduli pada anak-anak, dapat diandalkan, dan selalu ingin menjadi yang sempurna sebagai ayah dan suami. Oliver, suami Erika, berpembawaan tenang dan logis seperti Erika. Meski pendiam, nyatanya ia orang yang sangat perasa. 

Lalu ada Harry, bapak tua yang sering marah-marah dan suka mengeluhkan apa saja yang tidak berkenan di hatinya. Vid, pria paruh baya yang kaya, ramah, senang bersosialisasi, pintar memasak, dan gemar bicara, jelas tokoh yang sangat dominan di pesta-pesta. Dan diantara semuanya saya ternyata paling menyukai Tiffany, istri Vid yang seksi. Meski ia punya masa lalu kelam, dan orang-orang memandang negatif kepadanya, nyatanya ia tidak terpengaruh. Jelas, Tiffany lah yang paling merasa menyesal atas kelalaiannya di pesta barbekyu tersebut, paling merasa bersalah atas kematian Harry, dan yang lebih dulu mengambil langkah nyata untuk memperbaiki hubungan mereka semua setelah insiden di pesta barbekyu terjadi.

Sisanya, ada tokoh anak-anak, khas cerita Liane Moriarty yang selalu melibatkan anak-anak di dalamnya. Ada Holly, Ruby, dan Dakota.

 

Alur dan Latar

Membaca Truly Madly Guilty harus sabar. Plotnya berjalan santai dan lemah gemulai 😁, di satu sisi bisa membuat kita jadi gregretan dan terus membaca, tapi di sisi lain mungkin bisa membuat kita lelah menunggu dan akhirnya menyerah. Pasalnya alur ceritanya memang maju mundur dan cenderung lamban. Begitulah gaya Liane Moriarty jika membuat cerita, selalu unik dalam unsur alurnya. Jika dibandingkan dengan dua buku lainnya (Rahasia Sang Suami dan Dusta-Dusta Kecil), buku Para Pendosa memang terasa lebih monoton.

Tapi seperti buku Rahasia Sang Suami, buku ini juga menyimpan ending yang menyentuh. Epilognya manis, dan menutup kisah secara keseluruhan dengan baik. Nyatanya bagian terbaik buku ini memang berada di bab-bab terakhir berikut epilognya itu. Jadi, jika teman-teman memutuskan untuk membaca Truly Madly Guilty, lalu merasa bosan atau lelah di tengah jalan, cobalah untuk bertahan, karena bagian akhirnya mungkin akan kalian sukai.

 

Baca juga : "Review Buku Dusta-Dusta Kecil (Big Little Lies) - Liane Moriarty"

Baca juga : "Review Buku Rahasia Sang Suami (The Husband's Secret) - Liane Moriarty"

 

Penggambaran latar cerita sangat baik. Perumahan orang-orang kaya, rumah ibu Erika yang jorok dan kotor, rumah Clementine yang berantakan dan barang-barangnya sering hilang terselip entah dimana, atau rumah Erika yang super rapi dan cenderung dingin, adalah contoh dari beberapa latar yang melekat dalam ingatan saya.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Keunikan buku-buku karangan Liane Moriarty salah satunya adalah permainan di unsur alur cerita. Sama seperti di dua buku karangan beliau yang telah saya baca sebelum ini, selalu ada lompatan-lompatan alur di bab-babnya. Kadang awab bab dibuka dengan cerita di "dua sebelum barbekyu", yang lalu dilanjutkan dengan cerita masa kini, tapi kemudian alur mundur kembali ke "satu hari sebelum barbekyu", hingga akhirnya kita berjumpa pada episode "hari pesta barbekyu" (yang mana membuat saya sangat penasaran gara-gara alur yang dibolak-balik dan dimainkan pelan-pelan seperti ini), yang baru setelah itu alur maju hingga akhir cerita. Buat teman-teman yang suka pusing dengan permainan alur seperti ini, siap-siap saja ya 😁, tapi buat yang memang suka alur kombinasi, kemungkinan kalian akan menemukan keasyikan tersendiri saat menyimaknya.

Picture : Awal bab yang dimulai dengan cerita "hari pesta barbekyu"

 

Bagian ini saya tandai gara-gara terbaca oleh saya nama award buat penulis buku yang di dunia nyata memang memiliki gengsi tersendiri. Man Booker Prize baru-baru ini mempublikasikan beberapa judul buku yang masuk finalis dan yang menjadi juara tahun 2017. Jadi narasi ini terasa menarik karena versi nyatanya memang benar adanya. Buku-buku yang masuk list Man Booker jelas novel-novel yang tepat.

Kami berolahraga secara rutin, kami menonton pertunjukan teater, kami membaca novel-novel yang tepat, bukan hanya yang termasuk dalam daftar pendek Man Booker, tetapi dalam daftar panjang Man Booker, kami mengunjungi pameran dan kami sungguh-sungguh tertarik pada politik internasional, masalah-masalah sosial dan anak-anak manis dari teman-teman kami.

Halaman 58

 

Buku apa sih yang disinggung di dalam buku orang lain (?). Saya suka penasaran sendiri soal itu. Makanya saya rajin mengamati judul-judul buku yang muncul untuk melengkapi latar cerita berbagai novel. Seringnya saya menemukan buku-buku Harry Potter yang disebut-sebut, tapi kali ini di buku Truly Madly Guilty justru buku Hunger Games rupanya yang muncul.

Ia merasakan sensasi yang menyenangkan secara fisik, seolah-olah ia sungguh sedang terjatuh, terjun ke dalam dunia The Hunger Games, di mana Dakota adalah Katniss dan ia kuat, hebat dan ahli, tetapi juga cantik.

Halaman 104.

 

Kisah-kisah yang ditulis oleh Liane Moriarty sejak awal memang selalu sarat dengan topik-topik sederhana, keseharian, dan kehidupan sosial masyarakat umumnya, yang selalu membawa banyak pesan untuk direnungkan oleh pembacanya.

Tidak seorang pun memperingatkanmu bahwa memiliki anak akan membuatmu berubah kecil, sepele dan primitif, di mana bakat, pendidikan dan pencapaianmu sama sekali tidak berarti.

Halaman 75

#Fenomena dilema hidup Clementine rasanya dialami oleh banyak ibu muda di dunia nyata, yakni ketika para ibu masih ingin mengejar karir tapi anak keburu lahir.

 

Untunglah ia tidak memiliki pekerjaan seperti Clementine, di mana kau harus terus menggali emosimu sendiri. Pekerjaan seharusnya bebas emosi. Itulah kenikmatan dari pekerjaan.

Halaman 94

#Ah, bagian ini saya sangat setuju. Kadang ketika pikiran saya sangat lelah karena urusan kantor atau bisnis, saya sangat menikmati pekerjaan-pekerjaan yang tidak melibatkan emosi dan pikiran sama sekali. Jangan-jangan saya memang lebih cocok jadi tukang panggang kukis ketimbang duduk di posisi manajerial sebuah perusahaan 😊..

 

Besar harapan saya, buku cetakan kedua untuk Truly Madly Guilty nantinya bebas dari typo. Meski salah ketik ini adalah hal yang sepele dan tidak mengubah arti cerita, tapi tetap saja akan lebih baik jika tak ada typo dari awal hingga akhir.

Picture : Salah satu typo

 

Kenyataan yang ironis juga saya rasakan saat membaca bagian ini. Eh, tapi itu betul lho 😊.

"Astaga!" Seorang wanita berusia setengah baya dengan rambut keriting gelap duduk di samping Tiffany dan menunjuk rok sutra Stella McCartney mereka yang sama. Wanita itu mengenakan kardigan putih yang persis seperti yang dicari-cari Tiffany di laci Dakota.

"Aku membeli punyaku saat diskon." Wanita itu mencondongan tubuh ke depan dan menangkupkan tangan di mulut. "Diskon empat puluh persen."

"Lima puluh persen," Tiffany balas berbisik. Ia bohong. Ia membelinya dengan harga penuh, tetapi hidup adalah kompetisi dan ia tahu para istri dari pria-pria kaya suka berbicara tentang cara mereka berhemat ketika membeli pakaian perancang yang didiskon. Itu adalah kontribusi mereka untuk keuangan rumah tangga. 

"Sialan!" Wanita itu tertawa ramah yang membuat Tiffany berharap ia mengatakan yang sebenarnya.

Halaman 239

# Orang-orang kaya cenderung malu terlihat menghambur-hamburkan uangnya. Yang sombong dan pamer biasanya justru yang pura-pura kaya atau yang baru saja jadi orang kaya. #katanya

 

Seperti biasa narasi Liane Moriarty selalu luwes dan enak dibaca. Di buku-buku sebelumnya saya sudah mengamati betapa piawainya ia dalam mendeskripsikan tingkah laku tokoh anak-anak, narasinya begitu hidup dan menggemaskan. Tapi ternyata di buku ini bahkan bukan cuma anak-anak saja yang mampu dinarasikan Liane Moriarty dengan begitu baiknya. Barney si anjing terlihat begitu lucu dan hidup, meski ia hanya tokoh pelengkap yang bahkan bukan manusia sekalipun.

Anak-anak itu meringkuk di kedua sisi Dakota seperti adik-adik kecil impian yang tidak pernah Dakota miliki (kesepakatan harus dihargai, tetapi bagaimana mungkin kau tidak merasakan sekelebat penyesalan ketika melihat itu?) dan terpesona pada apa pun yang sedang ditunjukkan Dakota kepada mereka. Semoga saja tidak melibatkan kepala yang meledak. Barney sedang berada di sudut halaman, sibuk ddengan operasi penggalian tanah yang berusaha diabaikan Tiffany. Kadang-kadang Barney menoleh ke belakang untuk memastkan dirinya tidak tertangkap basah.

Halaman 242

# aduh lucunya anjing ini 😁

 

Menurut guru TK Holly yang menggemaskan dan agak bodoh, Miss Trent, Holly mengalami "kesulitan dengan kendali" di sekolah, dan akibatnya Holly tidak selalu membuat "keputusan yang benar". Tentu saja sikapnya di rumah juga tidak baik. Ia sedang melewati tahap nakal dan merajuk, dan akhir-akhir ini berhasil menyempurnakan pekikan mirip burung camar yang digunakannya sebagai ganti kata "tidak".

Halaman 283

# pembaca yang sudah memiliki anak pasti paham maksud dari "pekikan mirip burung camar yang digunakan sebagai ganti kata tidak 😅.

 

Tidak ada yang bersikap normal pada Ruby, yang jelas-jelas tidak mau diusik. Ia tidak mau tidur di ranjang besar bersama kedua orangtuanya. Ia ingin tidur di ranjangnya sendiri. Dan ia tidak mau orangtuanya tidur di lantai di kamar tidurnya. Ia akan berdiri dengan terhuyung di ranjangnya, sambil mengisap ibu jari, mengacungkan Pengocok ke arah orangtuanya yang mengganggu: "Pergi!" katanya. Mereka pun pergi. Ruby sepertinya bisa merasakan apabila seseorang terlalu menempel padanya atau terlalu cengeng. Clementine kadang-kadang memeluknya, menangis diam-diam, dan apabila Ruby menyadarinya, ia aka mendongak marah dan berkata, "Hentikan." Ia tidak mau dimanja, terima kasih banyak, kecuali apabila melibatkan biskuit tambahan.

Halaman 426

# Oke. Balita yang mengacungkan pengocok dari dalam box tempat tidurnya jelas tidak terlihat menyeramkan, justru sangat menggemaskan

 

Sisi-sisi emosional lah yang juga menjadi pokok perhatian saya di buku ini. Berhasilkan kisah ini memainkan emosi saya mengingat alurnya yang diatur sedemikian rupa oleh penulis? Jawabannya ya. Ada bagian-bagian yang terasa sangat menyentuh. Meski harus diakui bisa saja ini hanya berhasil jika pembacanya kebetulan adalah seorang yang telah berkeluarga. Untuk pembaca dewasa yang masih single, mungkin akan agak sedikit mengawang-awang karena belum berhadapan dengan situasi nyata dalam kehidupannya. 

"Kalau begitu," kata ibu Clementine, nafasnya berat. Apakah ia mengalami serangan jantung? Tiba-tiba saja ia mengambur ke arah Clementine. "Kenapa kau tidak mengawasinya?" Ia begitu dekat dengan Clementine sampai Clementine bisa mencium aroma tajam makanan yang dimakan saat makan malam dalam napas ibunya.

...

"Kau lebih pintar daripada itu. Seharusnya kau tahu?" lanjut Pam, matanya terpaku pada Clementine dengan begitu tajam seolah-olah Clementine adalah orang asing baginya, seolah-olah ia mencoba mencari tahu siapa orang ini yang telah melukai cucunya. "Apakah kau mabuk? Bagaimana bisa? Bagaimana kau bisa sebodoh itu?" Wajahnya memberengut dan ia menutup wajah dengan tangan.

Halaman 417

# Hal yang umum jika terjadi suatu kecelakaan terhadap anak-anak, maka orang-orang terdekat menyalahkan orangtua si anak, memperberat situasi yang ada.

 

Beberapa bagian dari cerita ini terasa sedih untuk disimak. Bukan cuma karena narasi penulisnya yang bagus untuk menggambarkan situasi tersebut, tapi karena jika situasi itu direfleksikan dalam kehidupan nyata, tak ada lagi yang bisa diperdebatkan. Itu jelas-jelas menyedihkan.

Sepanjang jalan pulang, Clementine menangis: untuk anak kecil itu, untuk nenek yang menelepon, untuk kakek yang berbagi cerita, untuk si orangtua, karena perkawinan mereka tidak bisa bertahan, dan karena sepertinya perkawinan Clementine juga tidak akan bisa bertahan.

Halaman 445

 

Siapa Liane Moriarty

Liane Moriarty adalah penulis asal Australia yang buku-bukunya sudah terjual lebih dari enam juta eksemplar di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 39 bahasa. Buku The Husband's Secret juga mendapat predikat #1 New York Times Bestseller, bahkan #1 UK Bestseller. Buku ini kemudian diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dalam edisi terjemahannya dengan judul Rahasia Sang Suami.

Keenam buku yang dikarang Liane Morarty juga mendapatkan predikat international best-selling novel. Keenam buku tersebut adalah Three Wishes, The Last Anniversary, What Alice Forgot, The Hypnotist's Love Story, The Husband's Secret, dan Big Little Lies. Dua judul terakhir bahkan merupakan 1 New York Times Bestsellers. Buku The Husband's Secret (Rahasa Sang Suami) diangkat menjadi film dan Big Little Lies menjadi film seri HBO dengan Nicole Kidman dan Reese Witherspoon sebagai bintangnya.

Buku The Husband's Secret terjual lebih dari tiga juta kopi di seluruh dunia. Buku ini mendapatkan predikat #1 UK Bestseller, dan Amazon Best Book of 2013 serta telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa. Selama setahun New York Times memasukkan buku ini ke dalam bestseller list mereka.

Berikut adalah buku-buku karya Liane Moriarty lainnya :

Dewasa

  • Three Wishes (2004)
  • The Last Anniversary (2006)
  • What Alice Forgot (2010)
  • The Hypnotist's Love Story (2011)
  • The Husband's Secret (2013)
  • Big Little Lies (2014)
  • Truly Madly Guilty (2016)

Anak-anak

  • The Petrifying Problem with Princess Petronella (2009)
  • The Shocking Trouble on the Planet of Shobble (2009)
  • The Wicked War on the Planet of Whimsy (2010)

Truly Madly Guilty mendapatkan rating 3,7 di Amazon dan 3,55 di Goodreads. Poin tersebut memang lebih rendah dari dua buku sebelumnya. 

 

Rekomendasi

Buku ini saya rekomendasikan kepada pembaca dewasa yang menyukai novel dengan topik keluarga, rumah tangga, dan persahabatan yang dekat dengan realita kehidupan. Alurnya yang maju mundur dan cenderung lamban memang menuntut kesabaran pembaca, tapi seperti biasa karya Liane Moriarty selalu punya ending yang menyentuh dan sarat makna. Gaya bahasa yang luwes serta kualitas terjemahan yang baik membuat buku ini nyaman untuk dibaca.

Catatan : hanya untuk pembaca dewasa mengingat di beberapa bagian terdapat percakapan bertopik seksual.

 

My Rating : 4/5

 

0
0
0
s2sdefault

Review Buku The Dry (Kemarau) - Jane Harper

Published: Monday, 25 December 2017 Written by Dipi
0
0
0
s2sdefault

Judul : Kemarau (The Dry)

Penulis : Jane Harper

Jenis Buku : Novel

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : November 2017

Jumlah Halaman :  440 halaman

Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm

Harga : Rp. 95.000

Edisi Terjemahan

International Bestseller

ABIA Australian Book of the Year (2017)

The Indie Book Awards Book of the Year (2017)

 

 

Sekelumit Tentang Isi

Tentu saja tragedi pembantaian keluarga Luke Hadler membuat resah seisi kota Kiewarra. Diduga Luke sendiri yang membunuh istrinya, Karen, dan putranya, Billy. Satu-satunya yang selamat adalah si bayi Charlotte yang menangis kencang dari balik box bayinya kala polisi tiba di lokasi kejadian.

Agen polisi Federan Aaron Falk berusaha mengusut kasus ini bersama Sersan Greg Raco, lebih disebabkan karena permintaan pribadi ayah dan ibu Luke daripada tugas kepolisiannya tentu saja. Luke adalah sahabat masa kecilnya. Mereka punya rahasia bersama. Dulu itu Luke berbohong, Falk berbohong, dan Ellie Deacon mati. Kini mungkin ada yang mengetahui rahasia itu. Meski penduduk Kiewarra tidak menyambut kehadirannya kembali di kampung halamannya tersebut, Falk memutuskan untuk tetap mencari tahu, dan makin ia menyelidiki makin terseret ia ke dalam berbagai rahasia termasuk peristiwa kematian Ellie di masa lalu.

Dapatkah Falk dan Raco memecahkan misteri pembantaikan keluarga Luke? Benarkan Luke yang melakukan pembunuhan terhadap istri dan putranya sendiri? Apakah rahasia kematian Ellie akan terungkap di akhir cerita? Berlatar belakang kota Kiewarra yang suram, kering, dan murung, kasus Luke Hadler terasa meresahkan. Dan ketika fakta-fakta mulai terungkap, ternyata semua yang terjadi di luar dugaan kita.

 

Seputar Fisik Buku dan Disainnya

Ya, memang kira-kira setebal itu lah buku The Dry. Cukuplah, tidak terlalu tipis dan tidak terlalu berlebihan juga. Edisi terjemahan yang saya baca memiliki disain cover menyala dengan ilustrasi gambar pohon yang mengasosiasikannya dengan latar cerita kota Kiewarra yang kering kerontang, tragedi pembantaian yang kejam, serta peristiwa kebakaran. Apakah saya suka disain ini? Kesan saya terhadap disain justru bukan suka atau tidak suka. Saya cenderung merasa terganggu dengan disainnya sebagaimana saya pun merasa terganggu dengan kasus di dalam cerita bukunya. Meski ini cuma fiksi, tapi pembantaian keluarga yang melibatkan terbunuhnya seorang anak kecil tak pelak lagi membangkitkan perasaan marah dan tercekam dalam saat yang bersamaan.

 

Tokoh dan Karakter

Falk, pria yang berpembawaan tenang, sedapat mungkin menyimpan emosinya di balik ekspresi dan tindakan yang terukur. Sebagai investigator ia cerdas, mampu menilai suatu kasus dari sudut pemahaman yang berbeda. Pada dasarnya hatinya lembut, dan ia pun pria yang baik. Sayangnya, tragedi masa kecil serta latar belakang keluarga membuat karakternya menjadi lebih rumit.

Sersan Raco polisi yang berdedikasi, tak kenal menyerah, setia kawan. Bertugas di Kiewarra dan berhadapan dengan kasus pembantaian keluarga Luke Hadler tidak membuatnya gentar, tapi ia memang lelah, terutama karena investigasi mereka yang berjalan dengan pelan. Banyak keganjilan tapi tak ada jawaban bagi banyak pertanyaan di benaknya.

Grant Dow dan Dow Deacon, dua tokoh antagonis yang punya badan besar, tukang berkelahi, selalu mencari-cari kesalahan, mabuk-mabukan, dan suka mengintimidasi dan mencurangi siapa pun yang bisa dicurangi. Tapi untuk urusan membunuh, mampukah mereka melakukannya?

Mr. Whitlam, kepala sekolah tempat Billy belajar dan tempat dimana Karen bekerja, baru saja pindah ke kota Kiewarra untuk memulai hidup barunya bersama istri dan putri tercinta mereka. Di hari pembantaian itu terjadi, harusnya Billy berada di rumah Whitlam, bermain bersama anaknya, dan aman dari jangkauan si pembunuh.

Jamie Sullivan, teman Luke yang pendiam, tinggal berdua dengan neneknya yang nyaris pikun di rumah pertanian yang tersembunyi. Sullivan menembak kelinci bersama Luke di hari kejadian tersebut. Tapi tentu saja Sullivan berbohong.

Permainan tokoh dan karakter di dalam buku The Dry menarik untuk disimak. Masing-masing memiliki perannya di dalam cerita. Masing-masing memiki misteri masa lalu, termasuk Gretchen, mantan pacar Luke yang cantik dan populer.

 

Alur dan Latar

Bisa dibilang The Dry adalah sebuah kisah yang memiliki alur cerita campuran, maju dan mundur. Ketika kita sedang enak-enaknya menyimak masa sekarang, tiba-tiba kita di bawa sekian tahun lalu, saat tokoh-tokoh cerita masih berusia remaja dan misteri kematian Ellie sedang menghadang, usai bercerita tentang masa itu, kita kemudian kembali melanjutkan masa yang tadi di awal sedang diceritakan.

Meski begitu, sebagai pembaca saya tidak merasa terganggu dengan alur yang seperti ini. Saya pikir ini karena disebabkan pemilihan waktu pergantian alur yang tepat, model huruf yang dibedakan, hingga pilihan paragraf penghubung yang tepat. Lagipula, untuk novel suspense berteka-teki seperti The Dry, permainan alur maju mundur memang diperlukan untuk menambah rasa penasaran maupun memperjelas latar belakang kasus pembunuhan yang ada. Para penyuka novel misteri, suspense, maupun thriller, pasti sudah maklum, bahkan mungkin menyukai tipe-tipe alur cerita yang seperti ini. Alurnya rapi dan proporsional.

Dengan latar kota Kiewarra yang kering kerontang dilanda kemarau berkepanjangan, kasus Luke Hadler makin terasa mencekam. Pembunuhannya sendiri sudah terkategori biadab. Dan keadaan kota serta kondisi psikologis masyarakatnya yang setengah gila karena tekanan lingkungan yang keras melengkapi alur cerita hingga ke ujung-ujungnya. Tentu saja deskripsi kota Kiewarra digambarkan oleh Jane Harper dengan baik. Ini memang novel debut yang luar biasa.

 

Yang menarik dan atau disuka dari Buku ini

Buku-buku misteri dan suspense bagi saya selalu rumit. Masalahnya saya suka berekspektasi berlebihan sejak awal. Berharap bahkan di halaman pertamanya pun sang penulis sudah dapat menyuguhkan adegan yang menarik, entah itu aneh, mencekam, atau menggelikan. Beberapa buku ternyata tidak demikian, kita harus menunggu satu-dua bab berlalu baru kemudian bisa menemukan hal-hal menarik tersebut. Tapi untuk buku The Dry, saya langsung terpesona oleh prolognya. Cerita tentang lalat, narasi yang tak pernah saya duga sebelumnya, kelihatannya sepele (sudut pandang lalat), tapi justru bagi saya memunculkan perasaan mual pada lokasi pembantaian tersebut, dan betapa kejamnya kasus pembunuhan keluarga Hadler. Saya langsung berpikir, ini pasti buku yang bagus.

Pertanian itu bukannya belum pernah melihat kematian, dan lalat hijau tidak mendiskriminasi. Bagi mereka bangkai tidak ada bedanya dengan jenazah.

Kemarau pada musim panas menyisakan banyak pilihan bagi lalat. Mereka mencari-cari mata yang tak berkedip dan luka-luka lengket ketika para petani Kiewarra menodongkan senapan ke ternak yang kurus. Tidak ada hujan berarti tidak ada makanan. Dan tidak ada makanan berarti harus mengambil keputusan sulit, ketika kota kecil itu mendidih di bawah langit biru yang memanggang setiap harinya.

...

Setidaknya para lalat hijau senang. Walaupun penemuan hari itu agak tidak biasa. Dagingnya lebih kecil dan mulus. tidak apa-apa. Toh yang ini sama saja dengan yang lainnya. Mata seperti kelereng. Luka basah.

Mayat yang ada di lahan terbuka merupakan yang paling segar. Lalat-lalat butuh sedikit waktu lebih lama untuk menemukan dua jenazah lain di dalam rumah pertanian, meskipun pintu depan terbentang mengundang. Lalat-lalat yang terbang melewati hidangan pertama di lorong dihadiahi hidangan lainnya, kali ini di dalam kamar tidur. Yang ini lebih kecil, dan tidak banyak saingan yang mengerubutinya.

Sebagai yang pertama tiba di TKP, lalat-lalat itu mengerubuti dengan puas dalam hawa panas selagi genangan darah mennghitam di ubin dan karpet. Di luar, jemuran bergeming di tali jemuran, kering dan kaku karena matahari. Sebuah skuter anak-anak tergolek di jalan setapak dari batu. Hanya ada satu jantung manusia yang masih berdetak dalam radius satu kilometer dari pertanian itu.

Karena itulah tidak ada yang bereaksi ketika jauh di kedalaman rumah, bayi itu mulai menangis.

Halaman 8

  

Teman-teman pasti mengerti bahwa bagian terpenting dari novel misteri dan suspense salah satunya adalah proses bagaimana kepingan teka-teki dibuka satu per satu dan fakta-fakta dijabarkan dengan pelan namun pasti. Jika waktunya tidak pas, ceritanya akan menjadi aneh, terkesan buru-buru atau malah terlalu lambat dan mengada-ada. Kalimat yang dipilih juga tidak boleh sembarangan karena harus dapat membangkitkan rasa penasaran pembaca. Di bagian ini saya mendapati Jane Harper memiliki kemampuan untuk itu. Ada keraguan pada kasus itu, keganjilan, mungkin bukan Luke yang membunuh dan lalu bunuh diri, mungkin ini suatu kasus pembunuhan.

"Pelurunya," kata Raco akhirnya. "Dari senapan yang membunuh keluarga Hadler. Tidak cocok."

"Tidak cocok dengan apa?"

"Dengan merek peluru yang digunakan Luke Hadler. Sudah digunakan selama bertahun-tahun, sejauh yang kutahu. Tiga peluru yang membunuhnya dan keluarganya adalah Remington. Satu-satunya amunisi yang kutemukan di seantero properti ini adalah Winchester."

Halaman 53

 

"Sidik jarinya jelas," kata Falk.

Raco menangkap nada bicara Falk. Mendongak dari catatan-catatannya.

"Ya, betul-betul solid. Orang-orang tidak butuh diyakinkan lebih jauh setelah melihatnya."

"Sangat solid," kata Falk, mendorong laporan itu ke meja ke arah Raco. "mungkin terlalu solid? Orang ini diduga baru membantai keluarganya. Seharusnya dia berkeringat dan gemetaran seperti pecandu. Aku pernah melihat sidik jari dalam kondisi yang lebih buruk diambil sebagai barang bukti."

Halaman 72

  

Deskripsi latar tempat kejadian perkara yang diberikan juga sangat mencukupi. Apa artinya cerita pembunuhan sadis jika latar tempat kejadiannya gagal untuk diimajinasikan. Tapi sekali lagi Jane Harper berhasil memberikan kita apa yang kita butuhkan. Sebuah deskripsi latar yang seolah hampir nyata untuk sekadar diimajinasikan.

"Jenazah anak laki-laki itu sudah dipindahkan,"kata Raco. "Tapi kau bisa melihat bagaimana keadaan kamar ini saat ditemukan."

Di dalam foto-foto tersebut, kerai terbuka lebar, menumpahkan cahaya ke dalam TKP mengerikan di bawahnya. Pintu-pintulemari baju terpentang dan baju-baju didorong ke samping dengan kasar. Kotak mainan rotan yang besar dijungkirbalikkan. Di ranjang, selimut bermotif pesawat luar angkasa kusut masai di satu sisi seakan disingkap untuk memeriksa apa yang ada di baliknya. Karpet sebagian besar warna cokelat krem, kecuali salah satu sudut tempat genangan merah-hitam kental menyerap dari belakang keranjang cucian besar yang dijungkirbalikkan.

Sejenak Falk mencoba membayangkan momen-momen terakhir Billy Hadler. Meringkuk di belakang keranjang cucian, urin panas mengalir menuruni kakiya sewaktu ia berusaha meredam suara napasnya yang terengah-engah.

Halaman 62

 

Agak terkejut juga ketika saya mendapati sesuatu tentang Indonesia disebut-sebut di buku ini. Tapi Bali memang pulau yang terkenal kan ya :), dan lokasi cerita yang berada di Australia tampak tak begitu jauh dari negara kita ketimbang jika cerita ini terjadi di benua Eropa sana. Silahkan teman-teman baca sendiri buku ini untuk mengetahui hal apa lagi tentang Indonesia yang disebut-sebut di dalam cerita.

Sepupu Ellie. Mereka punya mata yang sama, tapi Falk tahu sama sekali tidak ada kesamaan sifat antara Ellie dan pria itu. Dow berhenti di depan meja Falk dan Raco, sosok berlemaknya menghalangi pandangan. Kaus pria itu mengiklankan merek bir dari Bali.

Halaman 78

 

Kesuraman latar cerita tak hanya dideskripsikan Jane Harper lewat rangkaian kaliman yang gamblang, tapi juga lewat situasi lain. Penulis yang piawai 😊.

"Astaga, beberapa gambar dan lukisan ini sangat muram," gumam Raco.

Falk paham maksud Raco. Ada gambar keluarga manusia garis yang semua wajahnya dberi mulut melengkung ke bawah dengan krayon.Lukisan seekor sapi dengan sayap malaikat. Toffee Sapiku di surga, judul di bawahnya dalam tulisan tangan gemetar. Dalam setiap gambar lanskap, ladang-ladang diwarnai cokelat.

Halaman111

"Sobat, kalau semua masalah di wilayah sini ditangani seperti tadi, aku akan menjadi laki-laki bahagia," kata McMurdo, mengusap-usap cambangnya. "Sayangnya di tempat semacam ini kecenderungannya lebih ke arah adu jotos."

Halaman 170

 

Alur yang bercampur dengan masa sekarang dan masa lalu berada di bab yang sama. Tapi tidak membingungkan karena penempatannya yang sesuai dan penggunaan jenis hurufnya yang berbeda sehingga kita mengerti ketika alur berubah jalan ceritanya.

 

 

Deskripsi fisik tokoh-tokohnya disampaikan dengan baik dalam kemasan kalimat-kalimat yang luwes.

Karen menutup pintu di belakangnya. Ia memilih kursi yang paling dekat dengan meja Whitlam. Ia duduk tegak dan menyilangkan pergelangan kakinya dengan rapi. Baju terusan lilitnya tampak bagus tapi sederhana, dengan motif apel-apel putih samar berlatar merah. karen adalah tipe wanita yang raut muda dan cantiknya diperlembut oleh umur dan memiliki dua anak membuat tubuhnya tidak terlalu ramping, tetapi memiliki daya pikat tersendiri. Dia bisa dengan mudah menjadi bintang iklan supermarket untuk peran ibu yang mengerjakan segalanya. Siapa pun akan mempercayai merek detergen atau sereal yang direkomendasikan oleh Karen Hadler.

Halaman 117

 

Tidak ada sisi humor, kelucuan lebih sering terasa karena pilihan kata, penggambaran situasi, atau sesuatu yang terasa ironi.

Sandra Whitlam adalah wanita ramping berkulit pucat dengan mata hijau besar yang memberi kesan dia kaget permanen.

Halaman 231

# saya baru tahu jika ada kaget permanen di dunia ini 😅

 

Terdapat pula beberapa adegan yang terasa benar adanya, sehingga saya catat untuk direnungkan.

Falk menatapnya. Willis mungkin sudah menunggu dua puluh tahun untuk merasa menang terhadap seseorang dan tidak bakal menyia-nyiakan kesempatannya, Falk menyadari. Ia membuka mulut untuk berdebat, tapi lalu mengurungkan niatnya. Cuma buang-buang energi.

Halaman 272

"Oh. Aku ikut prihatin." Rita menatap Falk, matanya bersimpati. "Tetapi tentunya itu tidak membuat perkataanku tadi salah? Kematian jarang mengubah perasaan kita terhadap seseorang. Malah, sering kali kematian memperkuat perasaan itu."

Halaman 278

 

Berbeda dengan kasus pembunuhan Edmond Krisch di buku Origin - Dan Brown yang baru-baru ini juga saya review, kasus Luke Hadler dan misteri kematian Ellie di buku The Dry terasa lebih ringan disimak karena tidak ada konflik konspirasi dan berbagai informasi ilmiah sebagai pelengkap cerita. The Dry lebih menyerupai One of Us is Lying - Karen McManus yang mengangkat kasus pembunuhan biasa di masyarakat pada umumnya, meski pembantaian keluarga Luke Hadler di The Dry memang lebih sadis dan intens dibandingkan kasus di One of Us is Lying.

Baca juga : "Review Buku Origin - Dan Brown"

Baca juga : "Review Buku Satu Pembohong (One of Us is Lying)"

 

Ada beberapa typo di buku ini. Kesalahan yang memang kecil dan tidak berpengaruh pada jalan cerita. Namun, kadang terasa mengganggu untuk pembaca yang menyukai detail kesempurnaan pada sebuah buku 😂.

 

Siapa Jane Harper

Jane Harper adalah seorang penulis fiksi asal Australia. Novel debutnya yang berjudul The Dry menjuarai berbagai awards termasuk ABIA Australian Book of the Year (2017) dan The Indie Book Awards Book of the Year (2017). Novel ini juga segera akan diangkat menjadi film layar lebar.

Jane Harper berlatar belakang pendidikan English and History di University of Kent di Canterbury. Ia memiliki pengalaman di bidang jurnalistik di Darlington & Stockton Times di County Durham, dan menjadi jurnalis senior di Hull Daily Mail, bahkan bekerja pula untuk Herald Sun di Melbourne. 

Cerita pendek yang ia karang pada tahun 2014 menjadi salah satu dari 12 cerita terpilih pada Big Issue's annual Fiction Edition. Pengalaman ini lah yang kemudian memacu dan menginspirasinya untuk menjadi penulis yang lebih serius.

The Dry #Aaron Falk1 mendapatkan poin 4,4 di Amazon, dan 4,06 di Goodreads. Sedangkan novel keduanya yang berjudul Force of Nature #Aaron Falk2 mendapatkan rating 4,3 di Amazon dan 4,03 di Goodreads. 

 

Rekomendasi

Novel ini saya rekomendasikan kepada pembaca usia dewasa yang menyukai novel bergenre misteri dan suspense, dengan kasus pembantaian yang sadis sebagai topiknya. Rahasia masa lalu yang kelam, sesuatu tentang seseorang yang mati tanpa sebab yang pasti, misteri-misteri orang-orang di sekeliling, kebohongan-kebohongan yang terungkap satu persatu, dosa-dosa yang harus dibayar pada akhirnya.

Dengan alur yang rapi serta proporsional teka-teki terjawab satu persatu. Tidak ada latar ilmiah atau konflik konspirasi rumit di dalam cerita ini yang dapat membuat kening berkerut. Jane Harper mengangkat kasus pembunuhan berlatar belakang kehidupan masyarakat pada umumnya. Meski selintas terlihat sederhana namun tetap memikat, dan yang pasti sangat menghibur. Kualitas terjemahannya juga bagus.

 

Catatan : hanya pembaca dewasa. Unsur kekerasan dan pembunuhan yang sadis terdapat di cerita ini.

 

My Rating : 4/5

 

 

 

0
0
0
s2sdefault

Sponsored Post, Job Review, Special Request, Postingan Lomba

Review Buku The Productivity Project - C…

01-04-2018 Hits:683 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : The Productivity Project – Accomplishing More by Managing Your Time, Attention, and Energy Penulis : Chris Bailey Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement Penerbit : Crown Business Tahun Terbit : Agustus 2017 Jumlah...

Read more

Review Buku The Silent Corner - Dean Koo…

30-03-2018 Hits:718 Features Dipi - avatar Dipi

  Judul : The Silent Corner Penulis : Dean Koontz Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Random House Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  576 halaman Harga : Rp. 143.000 ISBN : 978-0-345-54679-1 Mass Market Paperbound Edisi Bahasa Inggris New York...

Read more

Review Buku Magnus Chase and The Sword o…

29-03-2018 Hits:772 Features Dipi - avatar Dipi

Judul : Magnus Chase and The God of Asgard - The Sword of Summer Penulis : Rick Riordan Jenis Buku : Novel Fantasy Penerbit : Disney Book Group Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman :  499 halaman Dimensi Buku...

Read more

Review Buku

Review Buku A Sweet Mistake - Vevina Ais…

24-05-2018 Hits:26 Review Buku Dipi - avatar Dipi

  Judul : A Sweet Mistake Penulis : Vevina Aisyahra Jenis Buku : Novel Young Adult Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Desember 2017 Jumlah Halaman : 248 halaman Dimensi Buku :  13,5 x 20 cm Harga : Rp. 59.000 ISBN...

Read more

Review Buku Into The Water - Paula Hawki…

06-04-2018 Hits:431 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Into The Water Penulis : Paula Hawkins Jenis Buku : Novel Suspense Penerbit : Noura Books Publishing Tahun Terbit : September 2017 Jumlah Halaman :  480 halaman Harga : Rp. 89.000 ISBN : 9786023853366 Edisi Terjemahan Penulis Terlaris #1 New...

Read more

Review Buku Gentayangan - Intan Paramadh…

29-03-2018 Hits:802 Review Buku Dipi - avatar Dipi

Judul : Gentayangan Penulis : Intan Paramadhita Jenis Buku : Novel Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit : Oktober 2017 Jumlah Halaman :  512 halaman Harga : Rp. 125.000 ISBN : 978-602-03-7772-8 Edisi Soft Cover Karya sastra bidang prosa terbaik pilihan...

Read more

Cerita Dipidiff

Bubur Kacang Ijo untuk Moonlight

10-03-2018 Hits:1398 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Usia Moonlight sudah 12 bulan sekarang. Sebagai emak-emak pada umumnya, hati saya pun gembira sekali melihat perkembangan anak. Moonlight sudah cukup lancar jalannya, dia sehat, aktif bermain, makannya bagus, dan...

Read more

Batik Kepret Motif Bunga dan Lingkaran

08-03-2018 Hits:1560 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Sudah hampir satu bulan kayaknya sejak terakhir membatik. Kok rindu ya 😅. Kain mori sudah ready, malam dan pewarna juga masih cukup untuk satu batik lagi. Jadi kayaknya kondisi sudah...

Read more

Membuat Shibori

27-02-2018 Hits:2036 Cerita Dipi - avatar Dipi

  Me time ya shibori time 😁🙌, pasti begitu kata para pecinta shibori. Teman-teman sudah pernah dengarkah tentang shibori? Jujur saja usia saya tahun ini 37, dan saya baru saja mendengar...

Read more
Ha Ha Clinton-Dix Womens Jerseys